Showing posts with label About Me. Show all posts
Showing posts with label About Me. Show all posts

Sunday, June 21, 2020

Wishes for My 34th Birthday

As usual,  I always convince myself that birthday is not a special day. I don't have to celebrate it coz when it comes to my birthday... it means that I am getting old.  That's it.  Well,  I know... everybody is getting older every minute every second,  but repeating the birthday every year... just feels like I am getting too much old. 

Yeah... I am only human....an ordinary woman. The more I try to convince myself,  the more my mind got tortured.  Hmmm... I still hope for a special surprise from my husband or my family.  I always dream that on my birthday, there will be a flower,  special dinner, special holiday trip....or even just a special birthday wishes note on the social media,  just to show to the world how much he loves me...how much he feels so grateful to have me. But,  once more I say... it is JUST A DREAM...only in my imagination.  

I am turning into 34 years old today. What is the meaning of 34 for me? 
34 is a struggle year for me. 

The first is.... I am striving to pay off all my debts. We already have had a house,  but it hasn't been entirely ours. We still have debt to the bank and to the former house's owner. We really think out loud how to earn money in this pandemic and we safe more money than what we spend. We really scrimp.  

The second is... I am trying to have the second child.  Well,  you know, I always wish to have a daughter, a pretty and sholehah girl.  
The third is...  I am trying to make my family happier especially my parents,  a couple of an angle and a hero in my life. I hope that I can share more good things for my family. 
The fourth is... I am struggling to lose the fat on my stomach. My body weight increased and I become so easily to get tired and get sick with this fat. And physically,  my body look so bad when I wear certain clothes.
The fifth is.... I am trying to be better at work.  
Actually,  there are many more things that I want to say on this note, but I forgot.  I will share it later when I remember them. 

I hope everything wil get better.... and I wake up tomorrow with a sunshine on my face. ☀🌻

Wednesday, November 20, 2019

Living A Life as A Working Mom (Part 1)


It’s  11.58 PM….almost midnight. And I am still awake with wide open eyes. Bener-bener gak bisa tidur, blum ngantuk sama sekali. Mumpung si husband juga lagi lembur ngedit foto depan komputer, ya ada kesempatan lagi deh buat nulis-nulis. Heheheeeeeehhhh….. padahal ini hanyalah sebuah pelarian karena handphone lagi lowbat.  :D :D :D

Well…hi, I am a working mom alias seorang  ibu yang bekerja di luar rumah. Saya bekerja sebagai seorang guru di salah satu Pesantren di Kabupaten Gowa. Kalau dihitung-hitung saya sudah 14 tahun loh menjadi guru. Eitssss….jangan kira saya sudah tua ya. Blum tua tua amat kok….masih 33 tahun.  Saya memang sudah mulai mengajar sejak masih semester 5 waktu kuliah dulu. Sekarang sudah berstatus guru tersertifikasi. Belum jadi PNS sih, tapi tuntutannya sudah harus memiliki kinerja setara dengan PNS.

#Morning Rush
Every morning, I am always in a rush. Hariku selalu dimulai dengan hal-hal yang selalu membuat nafas jadi ngos-ngosan.  Super rempong, padahal anak baru satu.  Semua berawal dari kesalahanku juga sih. Alarm HP sudah disetel  pukul 05.00 tuk segera bangun sholat subuh dan mandi. Tapi, selalu saja begitu dengar alarm, godaan tuk tidur kembali menghampiri. Terkadang segera bangun hanya sekedar tuk buang air kecil, trus balik tidur lagi. Sampe gak terasa….liat di monitor CCTV….ya ampun di luar mataharinya sudah terang benderang.  Mulai deh panik…segera laksanakan sholat subuh walaupun sudah tau bahwa sebenarnya sudah telat banget. Lanjut mandi dengan tergesa-gesa. Pake daleman, kemeja dalam, dan legging. Trus mulai membujuk Jagdish, anakku yang sudah berusia 3 tahun tuk segera bangun dan mandi. Sebisa mungkin Jagdish harus bangun sebelum saya berpakaian rapi, sebab kalo tidak, bisa terjadi adegan basah-basahan. Syukur-syukur kalo Jagdish sudah tidak ngantuk, langsung bangun dan mandi. Kalau belum bangun ya saya lanjutin saja dulu dengan pake make up, trus bikin kopi tuk pak suami. Nah, kalau Jagdishnya sudah bangun….mulai lagi deh bujuk-bujukan buat mandi. Kadang harus ngikutin dia keluar masuk…keluar masuk  dulu. Lumayan menguras energi….mengingat rumah orang tuaku yang kami tempati numpang tinggal ini…lumayan berliku dan lantainya gak datar dari luar sampe dalam. Lantai di tiap ruangan ketinggiannya beda-beda, jadi kalau jalan di dalam rumah mesti naik turun…naik lagi…turun lagi. Belum lagi drama pas Jagdish lagi mandi. Gak mau disiram lah…gak mau pake sabun lah… atau maunya turun ke bak air, trus main air berlama-lama. Pokoknya adegan inilah yang paling drama. Kalau cuaca lagi dingin, airnya pun jadi ikutan dingin. Dengan terpaksa harus masak air panas dulu buat air mandinya si anak. Ya…saya yakin hampir semua ibu sering mengalaminya. Bersusah-susah tapi hati terasa senang bisa menikmati moment kebersamaan dengan anak.

Selesai dengan mandinya si Jagdish, habis dipakein baju dengan rapi, tidak lupa pake hair lotion n parfum biar wangi… lanjut dengan makannya. Syukur Alhamdulillah, ada mama yang jualan nasi kuning di depan rumah. Jadi, soal sarapan kami sekeluarga aman. Terkecuali suamiku yang amat sangat jarang sarapan karena lebih senang ngopi dulu. Kadang-kadang, Jagdish dikasi nasi oleh neneknya, langsung makan sendiri. Kadang pula dibawa ke saya, mintanya disuapi.  Habis itu baru deh bisa  leluasa berpakaian. Sejak punya anak jadi sangat jarang nyetrika baju. Kalo gak kusut-kusut amat ya dipake begitu saja. Padahal dulu sewaktu masih gadis, ogah deh keluar kuliah atau kerja tanpa pakaian yang disetrika. Kalo sekarang ya mikir hemat tenaga. Makanya sekarang kalo mau beli pakaian mesti liat dulu jenis kainnya mudah kusut atau tidak.

Seringkali sementara lagi siap-siap buat ke sekolah, ada lagi intermezzo. Walaupun toko masih tutup…tetap saja ada pembeli atau nasabah yang masuk lewat pintu samping…mau bayar, transfer atau tarik tunai.  Ya terpaksa harus dilayani dulu. Pantang nolak rezeki di pagi hari.

Begitu nengok jam dinding….ehhh ternyata sudah setengah delapan. Hufthhhh….jadwal ngajarku jam pertama pula dan mulainya pukul 07.50. let’s go…we have to hurry up. Sambil teriak-teriak. Daddy….daddy….saya sudah selesai pakaian, ayo buruan saya sudah telat nih. Kalau si husband lagi ada job foto shooting di luar, Jagdish  harus ngikut ke sekolah.  Mesti ke warung sebelah dulu buat beli susu dan snack bekalnya. 

Jarak dari rumah ke sekolah tidak begitu jauh, kira-kira hanya sekitar 2 atau 3 kilometer. Tidak sampai 10 menit sudah tiba di sekolah. Di sini ada drama lagi…tarik-tarikan antara saya, Jagdish dan daddynya. Jagdish lebih memilih ikut daddynya, dia gak mau tinggal di sekolah.  Pokoknya kalau harus stay di sekolah ya harus  tarik-tarikan dulu meski harus sampai nangis teriak-teriak dan pukul-pukul momminya. Kalau daddy lagi gak ada job di luar, Alhamdulillah aman. Jagdish bisa langsung ikut pulang sambil dadadada ke momminya. 

Thursday, August 15, 2019

MEMULIAKAN GURU

Suatu hari saya pernah berpapasan dengan seseorang yang pernah menjadi guru saya. Di pikiranku saat itu,  'Ahhh,  paling-paling guru saya itu sudah lupa wajah saya dan sudah lupa bahwa saya pernah menjadi muridnya.  Bagaimana bila saya menyapanya dan dia cuek begitu saja?' Akhirnya saya lewat begitu saja tanpa tersenyum dan tanpa menyapanya. 

Tak lama setelah tiba di rumah,  saya tiba-tiba teringat kejadian tadi. Dan perasaan bersalah itu muncul bagaikan saya telah mendzolimi seseorang.  Mengapa saya telah bertingkah sedemikian sombongnya terhadap seseorang yang telah berjasa dalam hidup saya? Seharusnya saya tersenyum,  menyapanya,  mencium tangannya dan  memuliakannya... Dia mengingat saya sebagai muridnya ataupun tidak, saya tetap harus melakukannya.  Bagaimana bila ternyata beliau mengenali saya dan saya telah bersikap demikian? Tak terbayang betapa kecewanya beliau.  Saya menyesal... Sungguh menyesal hingga saat ini. 

Beberapa tahun berselang... Saya pun menjadi seorang guru. Suatu ketika saya bertemu dengan seorang guru yang cantik dan dia pernah menjadi murid saya. Apakah dia menyapa saya atau tidak? Ternyata dia menyapa saya dengan ramahnya, mencium tangan saya, dan mengenang kembali masa-masa ketika dia bersekolah dulu. Kini dia pun telah menjadi seorang guru dan dia tidak melupakan jasa-jasa gurunya. Sungguh terharu dan bangga rasanya. Saya merasa bangga bukan karena kesuksesan yang diraih oleh murid saya itu, akan tetapi bagaimana caranya memperlakukan seorang guru.

Saya pun belajar dari pengalaman tadi, bagaimana cara menghargai seorang guru dan bagaimana cara menjadi seorang guru yang dicintai oleh muridnya, walaupun waktu telah memudarkan sedikit demi sedikit kenangan akan perjuangan dan pengorbanan di masa lalu.

Thursday, January 31, 2019

RUMAHKU IMPIANKU




Memiliki rumah merupakan harapan semua orang terutama bagi yang sudah berkeluarga…punya suami/ punya istri & anak-anak. Ya, saya pun memiliki harapan yang begitu besar untuk segera memiliki rumah sendiri. Bahkan harapan itu semakin lama semakin besar nampaknya. Terlebih lagi ada dorongan dari teman-teman yang mengatakan lebih baik ngontrak rumah daripada terus-terusan numpang di rumah orangtua/ mertua.  Saya pun sudah beberapa kali mendengar bahwa tinggal terpisah dengan orangtua setelah menikah adalah pilihan yang terbaik. Ada pula yang mengatakan bahwa membangun keluarga dari rumah sendiri adalah surganya dunia. Ughhhh…so sweet. ^_^. Bukannya saya tidak bahagia hidup menumpang di rumah orang tua. Alhamdulillah….orangtua kami tidak jahat seperti orangtua atau mertua yang ada di sinetron yang dengan sengaja mengusir anak/menantunya dari rumah.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa tinggal terpisah dari orang tua setelah menikah adalah pilihan terbaik. Saya kutip dari https://www.hipwee.com/wedding/8-alasan-logis-kenapa-setelah-menikah-lebih-baik-kamu-hidup-terpisah-dari-orang-tua/
1.  Dengan tinggal sendiri, kamu dan dia juga bebas mengatur rumah tangga sendiri. Bukannya tak mau dicampuri, tapi terkadang campur tangan orang tua membuat rumah tangga tak nyaman.
2.    Kalian sudah besar, sudah menikah, harus mulai membiasakan diri untuk mandiri. Sudah saatnya berhenti mengandalkan orang tua dan mulai hidup mandiri berdua.
3.  Supaya kalian tahu bagaimana perjuangan orang tuamu dulu, tinggal terpisah adalah caramu merasakan bagaimana menjadi mereka 20-30 tahun yang lalu.
4.   Karena apa-apa harus ditanggung sendiri, kamu dan dia juga akan semakin termotivasi untuk kerja lebih keras lagi.
5.    Ketika ada masalah, kamu dan dia akan berusaha menyelesaikannya sendiri. Dan orang tua tak perlu tahu, karena permasalahan rumah tangga seharusnya hanya soal kamu dan dia.
6.   Belum lagi kalau kamu juga tinggal dengan adik-adikmu. Bisa-bisa mereka nggak mau nikah kalau sering lihat kamu dan dia ada masalah.
7.   Jika masih tinggal dengan orang tua, ketika terjadi masalah dengan mertua, kamu akan menempatkan pasanganmu dalam posisi yang sulit seolah-olah harus memilih.
8.   Di rumah baru dan lingkungan baru, kamu kalian bisa mengembangkan diri juga. Jadi selamanya nggak hanya dikenal sebagai anak Pak X atau Bu Y.

Kami (Saya & suami) memang memiliki harapan yang besar untuk memiliki rumah sendiri, tapi sepertinya kami harus berusaha lebih keras serta menabung untuk mampu memiliki rumah. Jangankan rumah, tanah sepetak pun kami belum punya. Kami pun tak menerima warisan dari orang tua. Sementara harga tanah & harga bahan bangunan semakin hari semakin meningkat. Mau tidak mau kami harus bekerja ekstra keras untuk mengumpulkan pundi- pundi rupiah. 

Kamipun tak henti-hentinya berdo’a semoga Allah memudahkan segala urusan kami dan melimpahkan rezeki yang berkah kepada keluarga kami .  Semoga Allah segera mewujudkan impian kami untuk memiliki rumah sendiri tahun ini 2019. Aamiin…Aamiin ya Rabbal Alamin.
Yakinlah Allah Maha Besar....Allah Maha mengabulkan doa-doaku. Insya Allah.....

Sunday, June 22, 2014

What Is Twenty Eight?



As usual, I never think that my birthday is something special to be celebrated. What for?
I am getting old and I have not married yet. It’s not something that I have to be glad for.

However, I am grateful to be blessed by God, Allah SubhanahuWata’ala. Thankful for the great family (even though my parents forgot my birthday), the cheerful friends, and the lovely students.  I am not alone.

Twenty eight is a patience.
Twenty eight means enjoying myself whatever I am.
Twenty eight has eternal power.
Twenty eight means struggle and hope that never end.
Twenty eight is time to prove the real me.

This month, June is a hopeful month. I am waiting for three good things. I wish for those three things, not one or two of them, but all those three things that can complete me. And when they come true, it will be the best day in my life.

Saturday, August 10, 2013

I Miss This Food So Bad



First time I tried this food was about two months ago when I was in Jakarta. It was so delicious. In the morning, my family and I had a planning to go shopping in Pasar Tanah Abang. But suddenly I didn’t feel good. It felt like I want to vomit. I was hungry, but there’s no food I wanted to eat. Whatever I think, I want to vomit. That was awful. Then we walked down Tanah Abang III Street. I saw a food cart in front of Padang Reataurant. An old man was selling soto mie in a small food cart. The only food that interested me. I asked my dad to buy for me. I tried and Mmmmm….it was so yummy yummy. It was so so so so delicious and made my body feel fresh again. Thanks a lot soto mie! Soto mie consists of noodle, meat, tomato, cabbage, bean sprouts, and cakwe. I want to try it again, but so sad, I couldn’t find a real soto mie in Makassar. I miss soto mie so bad….    :’(