Saturday, August 10, 2013

Perbedaan Penggunaan Many, Much dan A Lot of



Many, much dan a lot of ketiga-tiganya berarti banyak. Namun cara penggunaan ketiganya berbeda.

a)  Many (Banyak)
Many dipakai di depan kata benda yang dapat dihitung (countable noun). Misalnya: buku,mobil, orang, meja, kursi, dan sebagainya.
Contoh:
Many books          = banyak buku
Many cars              = banyak mobil
Many people         = banyak orang
Kalau anda perhatikan semua kata benda di atas berbentuk jamak. Sekarang perhatikan contoh kalimatnya.
1.      She doesn’t have many books.
Ia tidak mempunyai banyak buku.
2.      Do they have many cars?
Apakah mereka mempunyai banyak mobil?
3.      There are many people in the cinema.
Ada banyak orang di bioskop.

b) Much (Banyak)
Much digunakan di depan kata benda yang tidak dapat dihitung (uncountable noun). Misalnya: air, uang, gula, tinta, beras, dan sebagainya.
Contoh:
Much water           = banyak air
Much money         = banyak uang
Much sugar           = banyak gula
Contoh kalimat:
1.      There is much water in this well.
Ada banyak air di dalam sumur ini.
2.      Do you have much money?
Apakah anda mempunyai banyak uang?
3.      She doesn’t have much sugar.
Ia tidak mempunyai banyak gula.
Perhatikan kata-kata benda di atas, semua tidak memakai tambahan –s sebagai tanda jamak (lebih dari satu). Semua kata benda yang tidak dapat dihitung selalu tunggal karena tidak mempunyai betuk jamak.
Contoh:
Sugar is sweet.                                   = gula manis.
Rice is expensive.                              = beras mahal.
Gold is yellow            .                       = emas adalah kuning.
Rice grows in the field.                     = padi tumbuh di sawah.
Water flows through the river        = air mengalir ke sungai.
Jadi, untuk kata benda yang tak dapat dihitung, to be selalu is atau was atau kata kerjanya harus ditambah s.

c)  A lot of (Banyak)
Dalam kalimat berita, a lot of yang berarti banyak dapat dipakai untuk menyatakan banyak, baik untuk kata benda yang dapat dihitung maupun kata benda yang tak dapat dihitung.
Contoh:
I have a lot of books.                                = saya mempunyai banyak buku.
She has a lot of spare time.                     = ia mempunyai banyak waktu luang.
There is a lot of water in this tin.           = ada banyak air di dalam kaleng ini.
There are a lot of students in the class.  = ada banyak pelajar di dalam kelas.

Kesimpulan:
1.        Dalam kalimat berita, pakailah a lot of.
2.        Dalam kalimat menyangkal (negative), pakailah much untuk benda yang tidak dapat dihitung.
3.        Dalam kalimat Tanya, pakailah much untuk yang tidak dapat dihitung atau many untuk benda yang dapat dihitung.

Perhatikan kalimat berikut:
1.    How much water is there in this glass?
= Berapa banyak air di dalam gelas ini?
+) There is a lot of water in this glass.
     = Ada banyak air di dalam gelas ini.
2.    How many people are there in the street?
= Berapa banyak orang di jalan?
-) There aren’t many people in the street.
         = Tidak ada banyak orang di jalan.

Catatan:
Untuk menyatakan banyak, selain many, much dan a lot of masih ada lagi yaitu:
A good deal of
A great deal of                       = much ( dipakai di depan bentuk tunggal)
A large quantity of
Plenty of

A good many
A great many                         = many (dipakai di depan bentuk jamak)
A great number of

Contoh:
A good deal of business       = banyak bisnis
A large quantity of wine       = banyak anggur
Plenty of time                        = banyak waktu
A good many customers      = banyak pelanggan
A great number of people    = banyak orang

I Miss This Food So Bad



First time I tried this food was about two months ago when I was in Jakarta. It was so delicious. In the morning, my family and I had a planning to go shopping in Pasar Tanah Abang. But suddenly I didn’t feel good. It felt like I want to vomit. I was hungry, but there’s no food I wanted to eat. Whatever I think, I want to vomit. That was awful. Then we walked down Tanah Abang III Street. I saw a food cart in front of Padang Reataurant. An old man was selling soto mie in a small food cart. The only food that interested me. I asked my dad to buy for me. I tried and Mmmmm….it was so yummy yummy. It was so so so so delicious and made my body feel fresh again. Thanks a lot soto mie! Soto mie consists of noodle, meat, tomato, cabbage, bean sprouts, and cakwe. I want to try it again, but so sad, I couldn’t find a real soto mie in Makassar. I miss soto mie so bad….    :’(

Sunday, June 30, 2013

Diskriminasi di dalam Kelas


Masih mengingat 17 tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SD, guru agamaku sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas. Ia berdiri di tengah di antara jejeran empat buah bangku paling depan. Temanku Luna (nama samaran) duduk di sebelah kirinya dan saya duduk di sebelah kiri Luna. Saat itu temanku Luna sedang usil, dia terus mengusik keseriusanku memperhatikan penjelasan guru. Saya menepis gangguannya, akan tetapi ia tidak berhenti mengusik dengan menarik-narik rambut atau bajuku. Sekejap mata, sebuah buku tebal menghantam wajahku. Sangat sakit rasanya. Tapi, hatiku lebih perih lagi begitu menyadari bahwa gurukulah yang telah melayangkan buku agama tebalnya itu ke wajahku. Masih bingung tidak mengerti, apa salahku, guruku itu menambahkannya dengan omelan yang menuduhku tidak memperhatikan pelajaran. Bukankah sejak tadi saya memperhatikan pelajaran, temanku Luna lah yang telah menggangguku sehingga saya berusaha menghentikannya. Seharusnya guruku itu mengetahuinya karena ia berdiri begitu dekat dengan bangku kami. Hantamannya dilayangkan kepadaku melewati Luna yang duduk tepat di dekatnya dan justru sayalah yang kena. Tentu saya malu dan sedih, tetapi saya berusaha membendung air mata jatuh di kedua pipiku. Setelah tiba di rumah, saya masih merenungkan. Mengapa guru saya tadi memukul saya bukannya Luna? Saya baru menyadarinya bahwa Luna adalah murid rangking 1 di kelasku, ia termasuk murid yang terkenal cantik dan kaya. Guruku tidak akan mungkin mau mempermalukan murid kesayangannya itu. Hampir seluruh murid di sekolahku tahu bahwa Luna adalah murid kesayangan guru Agama itu.

Menginjak bangku SMP, pelajaran matematika semakin sulit bagiku, tetapi saya menjadikannya sebuah tantangan. Saya terus berusaha memecahkan kebuntuan itu. Dan ternyata beberapa kali saya berhasil menjadi salah satu dari sedikit siswa yang tidak mengulang pada ulangan Matematika di kelasku. Pada pelajaran matematika di kelas 2, setiap kali guru bertanya siapa yang bisa mengerjakan soal ini? Ketika saya yakin saya bisa menyelesaikannya, dengan cepat saya mengacungkan tangan bersaing dengan teman-teman yang lain. Seringkali saya melakukan ini, tapi guruku itu lebih memilih siswa yang menurutnya lebih pintar dari pada saya. Bahkan, pada saat hanya saya seorang  yang mengacungkan tangan untuk menyelesaikan sebuah soal matematika yang menurutku mudah sementara mereka yang lebih pandai dari pada saya tidak ada seorang pun yang yakin dengan jawaban mereka. Guru ku itu lebih memilih untuk menyelesaikan dan menjelaskannya sendiri, tidak memberikan kesempatan kepada saya. Ini tidak hanya sekali, atau dua kali terjadi selama tahun pelajaran itu. Sikap guruku membuat semangatku untuk mempelajari matematika menjadi semakin lama semakin berkurang.

Hingga memasuki masa SMA, mata pelajaran Bahasa Inggris masih menjadi pelajaran favoritku. Saya tidak begitu pandai dalam Bahasa Inggris, tapi saya menyukainya. Waktu itu guru bahasa Inggrisku, memberi kami tugas menghafal sekitar dua puluh kosa kata dalam bahasa inggris beserta artinya. Waktu itu saya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghafalnya. Tiba giliran saya maju ke depan, tiba-tiba ‘blank’ saya lupa beberapa kata. Dengan wajah kesal, guruku itu mengomeliku. Katanya saya tidak belajar, tidak berusaha. Malu rasanya diomeli di depan kelas. Setelah saya, giliran teman saya, si cantik Mary. Saya memperhatikannya, ia juga tidak menghafal semua kata, bahkan jumlah kata yang ia lupa lebih banyak dari pada saya. Tenggorokan saya seketika kering, guruku itu meloloskannya begitu saja, tanpa omelan, malah tutur kata guruku itu tedengar jauh lebih lemah lembut. Mary adalah siswi yang cantik, kaya dan salah satu teman se- geng anak perempuan guru bahasa inggrisku itu.

Di gedung DH, kampus UNM Parangtambung, seorang asisten dosen wanita memberi kami mata kuliah ILS (Integrated Language Skill). Kami sedang mempelajari pronunciation dan intonation yang tepat dalam sebuah percakapan Bahasa Inggris. Kami semua mendapat giliran untuk mengucapakan sebuah kalimat dengan pengucapan dan intonasi yang tepat. Tiba giliran saya, ternyata tidak selancar seperti yang kupikirkan, saya diharuskan mengulanginya beberapa kali. Saya terus berusaha memperbaikinya, akan tetapi wajah dosen itu menunjukkan wajah yang tidak senang. Entahlah, apakah memang di kelas saya itu hanya saya yang benar-benar bodoh. Putaran berikutnya, setiap mahasiswa kembali mendapat giliran untuk melakukan hal yang sama dengan contoh kalimat lainnya. Akan tetapi, saya selalu di skip alias dilewatkan, tidak mendapat giliran. Putaran ketiga, keempat, dan kelima, sama saja saya tetap dilewatkan. What’s wrong with me? Am I invisible? Saya merasa tidak melakukan hal-hal aneh atau hal yang tidak sopan kepada dosen itu.  Hingga saat ini saya masih tidak mengerti. Sejak semester itu berlalu dan saya mendapatkan nilai C (nilai terendah yang kuperoleh semester itu), saya tidak pernah lagi bertemu atau melihat dosen itu.

Beberapa peristiwa atau pengalaman saya tadi, hanya beberapa contoh dari ketidakadiilan yang saya peroleh selama saya menempuh pendidikan. Sejujurnya, masih banyak hal-hal lain yang mengganjal dalam pikiran saya selama ini yang tak mungkin cukup untuk saya ceritakan di halaman ini.  Diskriminasi memang sering kali terjadi di dalam kelas sejak dulu hingga kini.  Diskriminasi adalah bentuk ketidakadilan terhadap individu atau kelompok tertentu yang bisa merugikan individu atau kelompok tertentu tersebut. Yang sangat disayangkan adalah apabila tindakan pendiskriminasian ini dilakukan oleh seorang guru atau tenaga pendidik, dimana seharusnya ia yang menjadi teladan yang baik bagi anak-anak didiknya.

Sejak dulu, sejak saya diperlakukan secara tidak adil oleh guru, saya sudah menanamkan sebuah janji di dalam hati, bila suatu saat nanti saya menjadi seorang guru, SAYA TIDAK AKAN MELAKUKAN TINDAKAN DISKRIMINASI TERHADAP ANAK DIDIK SAYA. Saya tidak ingin mengulang kekeliruan beberapa guru saya terdahulu. Kini, saya benar-benar adalah seorang guru, saya tidak akan pernah mengistimewakan salah satu atau beberapa di antara mereka hanya karena alasan si A lebih pandai, si B lebih cantik, si C lebih kaya, atau si D lebih pandai mengambil hati. Kasih sayang kita kepada mereka tidak seharusnya diukur dengan semua itu. Tidak sulit melakukannya bila kita sebagai guru menganggap mereka semua adalah anak-anak kita sendiri. Insya Allah, semoga saya bisa mempertahankannya. Amin Ya Rabbal Alamin…


Wednesday, June 26, 2013

Matahariku






Seperti matahari
Ku mengeluh ketika teriknya membakar kulitku
Terkadang ku lupa
Sewaktu-waktu sinarnya akan pudar
Namun kusadari
Ku takut kehilangan cahayanya
Tuhan…ku sangat menyayanginya
Ibuku matahariku
Sebelum terlambat
Jangan sampai menyesal…