Friday, March 6, 2020

RESEP: TELUR MATA SAPI SAUS EBI PEDAS


Kali ini saya ingin membagikan resep yang baru saja saya coba hidangkan untuk makan siang suami. Sengaja saya bagikan karena menurut saya, ini adalah menu yang simple (bahannya mudah didapatkan dan murah meriah) tapi rasanya dijamin sangat enak. Apalagi bila disantap dengan nasi hangat. Selamat mencoba…….


BAHAN:
3 butir telur
4 sendok makan ebi kering
20 biji cabe (atau tergantung selera mau pedas atau extra pedas)
2 siung bawang merah
2 siung bawang putih
2 biji tomat merah
1 batang daun bawang
1 sendok makan kecap manis
Garam secukupnya
Minyak goreng secukupnya

CARANYA:
1.      Panaskan minyak dia atas wajan, goreng telur satu per satu telur, bolak-balik hingga matang (kalau saya suka yang setengah matang). Taruh di atas piring, lalu sisihkan.
2.      Haluskan cabe, sesiung bawang merah dan sesiung bawang putih. Iris satu siung bawang merah dan satu siung bawang putih.
3.      Tumis bawang merah dan bawang putih di atas minyak yang telah dipanaskan. Setelah bawang berwarna kecoklatan; masukkan cabe, bawang merah dan bawang putih yang telah dihaluskan. Tumis beberapa saat, lalu masukkan ebi kering kedalam tumisan. Aduk hingga aroma cabe dan ebi tercium.
4.      Tambahkan kecap manis.
5.      Masukkan tomat dan daung bawang yang telah diiris-iris. Aduk hingga tomat dan daun bawang sedikit layu.
6.      Bubuhi garam secukupnya. Aduk lagi hingga rata.
7.      Tuangkan saus ke dalam piring yang berisi telur yang telah digoreng tadi.
8.      Telur mata sapi saus ebi pedas siap disajikan.


PENGALAMAN AKAD KREDIT DI BANK BRI


Setelah penantian panjang selama kurang lebih sembilan bulan (Ibarat seorang ibu yang mengandung, sekarang saatnya  lahiran)…. finally, kita sampai pada AKAD KREDIT. Sebenarnya di Bank BRI, kami hanya menunggu lebih dari  2 bulan, tapi saya menghitung sejak kami mulai naksir rumah itu.

Malam sebelum akad kredit,  kami sudah hitung-hitung jumlah uang tunai yang akan kami bawa esoknya. Ya, bank meminta kami membawa berupa uang tunai. Setelah kami rasa cukup, saya taruh uangnya ke dalam amplop tersendiri supaya uangnya tidak tercampur dengan uang yang lainnya. Rinciannya biaya-biayanya sudah saya tampilkan di postingan sebelumnya (Baca juga: Pengalaman Mengajukan KPR di Bank BRI). Tak lupa kami juga menyiapkan beberapa hal yang harus kami bawa berdasarkan informasi dari staf notaris, yaitu: KTP suami dan istri, Kartu Keluarga, NPWP suami dan istri, serta buku rekening BRI atas nama yang mengajukan. Semua harus yang asli, bukan fotocopian.

Hari selasa, tanggal 18 Februari 2020, tibalah saatnya kami melaksanakan AKAD KREDIT setelah pengajuan KPR kami disetujui oleh bank. Kami berangkat mengikut sertakan Ummi (mertua saya). Dalam hal ini kami rasa ummi wajib turut serta karena ummi adalah sosok yang sudah berpengalaman dalam bidang perkreditan. Selain itu ummi juga merupakan orang yang teliti, kalau ada sesuatu yang terlewatkan, beliau bisa mengingatkan kami.

Proses akad kredit kami akan dilaksanakan di kantor cabang Bank BRI Sungguminasa. Begitu memasuki halaman bank, kami bertemu dengan Y beserta tantenya (dari pihak penjual).  Saya beserta Ibu W (tantenya Y), langsung menuju lantai 2 kantor bank BRI. Tadinya saya berpikir proses akad kredit kami akan berlangsung di dalam ruangan tertutup. Ternyata saya salah…rupanya proses akad kredit kami akan terlaksana di kursi tamu (ya…di ruangan yang menurutku cukup terbuka).  Sesuai jadwal, akad kredit akan dilaksanakan pada pukul 10 pagi. Kami datang 30 menit lebih awal. Lebih baik nunggu dari pada telat. Takutnya nanti bank akan menilai kami orang yang kurang disiplin. Masalah ketemuan saja bisa telat, gimana dengan bayar cicilannya  (heheheh….ini hanya pikiranku saja).

Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, bapak notaris dengan asistennya datang membawa sebuah tas berisi banyak lembaran kertas. Bapak notaris mencari yang mana yang bernama Pak R (penjual rumah), akan tetapi Pak R sedang keluar bersama Bapak Pinca BRI dan Kepala Pengadilan Sungguminasa yang kebetulan kantornya berdekatan. Kepala pengadilan Sungguminasa ternyata adalah mantan bawahan Pak R dulu…dan Pak Pinca BRI sepertinya juga cukup akrab dengan Pak R. Jadi mereka keluar tuk makan bareng setelah sekian lama baru bertemu.  Tanpa menunggu lama Bapak Notaris, cukup mengikutsertakan anaknya pak R yaitu Y  tuk menyaksikan proses akad kredit. Ternyata untuk tanda tangan Pak R (penjual), bisa dilakukan ditempat yang terpisah dengan kami (pembeli).

Bapak notaris kemudian menjelaskan beberapa poin penting yang tertera di dalam surat perjanjian akad kredit; diantaranya harga rumah, alamat rumah, jumlah plafon kredit, jumlah cicilan perbulan, lama cicilan, tanggal jatuh tempo, denda keterlambatan, dsb. Satu lagi yang menurut kami cukup penting, penalty senilai 2% akan diberlakukan apabila kami melunasi kredit sebelum 2 tahun masa cicilan. Setelah 2 tahun cicilan, apabila kami ingin melunasi pinjaman, maka kami tidak akan dikenakan denda penalty. That’s a good news for us.  Kami berharap semoga melewati tahun kedua kami diberikan rezeki yang cukup untuk melunasi hutang-hutang kami. Bila ada rezeki yang banyak, ditahun pertama pun kami siap tuk melunasi. Insya Allah….

Gambar diambil pada saat proses akad kredit.
Setelah mendengarkan pemaparan dari Bapak Notaris, hal yang pertama yang kami lakukan dalah saya menandatangani dan memberikan paraf di sejumlah lembaran, kemudian suami saya turut bertandatangan. Setelah itu membubuhi beberapa lembaran dengan Cap Jempol. Awalnya asisten notaris membantu saya, agar cap jempolnya pas, tapi setelahnya saya bisa melakukannya sendiri dengan baik. Selanjutnya, suami saya juga turut ber-cap jempol di sebelah kanan cap jempolku.

Sebelum proses akad kredit kami selesai, ternyata si Bapak Notaris juga sedang melayani Akad Kredit dengan pembeli dari  pihak lain. Jadi, dalam satu waktu dan di tempat yang sama, notaris bisa melakukan dua akad kredit sekaligus. Menurutku, mungkin bisa lebih, tergantung kesempatan yang tersedia.

Setelah selesai tanda tangan dan cap jempol, akhirnya proses akad kredit kami dinyatakan telah selesai. Selanjutnya Bapak Notaris akan menemui pak R (yang katanya sedang berada di kantor pengadilan Sungguminasa) untuk bertanda tangan juga. Prosesnya tidak lama…hanya sekitar kurang lebih 30 menit.

Sebelum pulang, kami menanyakan masalah pembayaran biaya-biayanya karena tidak sedikitpun dari pihak bank menyinggung masalah kapan biaya-biayanya dibayar. Dan lebih baik kami mengingatkan, takutnya entar udah pulang…ditelepon lagi untuk kembali ke bank. Dan betul saja, ternyata kami memang perlu membayar biaya-biayanya saat itu juga. Nah, disinilah letak keteledoran pihak bank, orang yang tadi akad kredit di dekat kami rupanya sudah pulang sebelum melunasi biaya-biayanya. (Hihihi…dipikirnya mungkin….dia sudah lolos dari bayar membayar biaya-biaya….hehehehhh) Ternyata tidak, sebab pihak bank akan segera menelponnya untuk datang kembali.

Kami membayar biaya-biayanya pada salah satu staf bank yang duduk di samping meja Bu Ratna. Kali ini saya hanya ditemani oleh ummi. Haduhhhh…rupanya staf yang ini  juga baru menghitung rincian biaya-biayanya. Padahal, rincian biaya-biayanya sudah ada di tangan kami, yang telah diserahkan oleh Bu Ratna sehari sebelumnya. Tadinya saya sudah mau memperlihatkan kepada mereka, tapi ditahan oleh ummi. Katanya…biarkan saja mereka hitung, kali aja bisa kurang. Dan ternyata memang kurang sedikit….tadinya jumlah yang dihitung oleh Bu Ratna adalah Rp. 18,925,200…sementara hitungan kali ini adalah Rp. 18,914,688. Jadi, selisihnya…Rp. 10,512. Sebenarnya, saya juga agak bertanya-tanya dalam hati, kok bisa beda yah….tapi ya sudah lah, Cuma beda 10 ribu. Mungkin nggak jadi masalah. Tak lupa ummi mengingatkan untuk meminta Surat Tanda Terima Dokumen Penting Barang Jaminan/ Agunan Kredit. Kata ummi, penting bagi kita untuk punya pegangan. Takutnya nanti belakangan ada masalah apalah-apalah. Syukur Alhamdulillah, stafnya bersedia membuatkan dua rangkap, satu untuk kami dan satu untuk bank. Saya juga bertanya perihal salinan surat-surat perjanjian akad kredit, apakah bisa diambil oleh pembeli. Dan katanya kami baru bisa memperolehnya seminggu kemudian. Setelah menyerahkan uang sejumlah yang diminta, staf bank kemudian turun ke lantai satu untuk membantu kami menyetorkan pada teller. Kami cukup menunggu di tempat kami semula. Ummi kembali mengingatkan, saya harus meminta bukti penyetoran biaya-biaya tersebut. Dan sayangnya, mereka hanya menyerahkan fotocopian dari bukti penyetorannya. Tapi, ya sudahlah….mudah-mudahan tidak menjadi masalah.

Selesai sudah proses akad kredit dan kami pun telah melunasi biaya-biayanya. Kami merasa cukup lega sekaligus khawatir karena hampir seluruh modal usaha telah kami gunakan untuk membayar DP, pajak, notaris dan bank. Kami telah mengeluarkan biaya sebesar kurang lebih 56 juta rupiah dan kami masih punya hutang sebesar 30 juta kepada pihak penjual karena turun plafon. Bismillah…Insya Allah dengan usaha dan doa, kami bisa melunasi hutang-hutang kami.

Sedikit tambahan….cerita berlanjut. Sepulang dari bank, begitu tiba di rumah, saya baru sempat membuka handphone dan melihat SMS banking yang masuk. Aneh….bukannya jumlah setoran 1 x angsuran yang harus diblokir oleh bank adalah 2,510,900…tapi kok di laporan SMS banking Cuma 2,150,900. Jangan-jangan ada yang salah nih. Akhirnya, saya mencoba menghubungi bu Ratna. Dan ternyata…yang salah adalah sewaktu bu Ratna menyerahkan rincian biaya-biayanya, dia lupa memasukkan biaya asuransi kebakaran senilai Rp.349,488 dan temannya juga salah menginput jumlah setoran 1 x angsuran yang harus diblokir. Itulah sebabnya terdapat selisih antara hitungan Bu ratna dan hitungan temannya. Dan….saya lah yang harus memambahkan kekurangannya yang sejumlah Rp. 360,000. Hufthhhh…ya daripada bermasalah, lebih baik saya bayar saja. Cukup mudah, saya tinggal mentransfernya lewat EDC Agen Brilink kami.

Ok….sampai disini dulu yah ceritanya….Semoga informasinya bermanfaat dan berkah. Aamiin….Ya Rabbal Alamin….


Tuesday, March 3, 2020

Contoh - Descriptive Text about A House


Berikut adalah salah satu contoh descriptive  text tentang rumah yang merupakan salah satu materi pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 7 tingkat SMP/MTS pada chapter VII.


Gambar ilustrasi diambil dari sumber www.popbela.com
  MY SMALL HOUSE

       I live in a small house. The color is yellow and white. There is a rose apple tree in the front yard. Inside my house, there are six rooms: a living room, two bedrooms, a bathroom, a family room, and a kitchen.

                The living room is small, so there are only a set of small sofas. The colors of the sofas are green. The curtains are green too. We usually sit here when we have guests. The first bedroom is my bedroom and my husband’s. It is on the left of the living room. There is a bed, a wardrobe, a dresser, and a big mirror. I like sitting near the window because I can see the plants outside of my house through the window.

                The second bedroom is my son’s bedroom. There are a lot of toys inside it. The bathroom is between my bedroom and my son’s bedroom. The family room is the most comfortable room in my house. There is a television, it sets on the wall. In front of the TV, there is a large carpet and a couch where we usually spend our spare time for relaxing.

              The kitchen is also small. But, we can find everything for cooking and eating inside it. There are two stoves, a sink, some pans, plates, spoons, bowls, a frying pan, a spatula, a kettle, etc. there is also a small dining table with four chairs where we usually have our breakfast, lunch, and dinner together.

               I really love my house. It is small but it is very nice for living.


Monday, February 24, 2020

How to Make A Simple Omelet

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....

Ibu dan Bapak guru sekalian yang mengajar Bahasa Inggris di kelas 9 tingkat SMP/MTS, mungkin ada yang kebingungan mencari materi untuk procedure text. Berikut adalah salah satu contoh procedure text yang bisa di manfaatkan sekaligus dipraktekkan di depan kelas. Mengapa saya memilih cara membuat omelet? Karena bahan-bahannya mudah didapatkan dan alat-alat yang digunakan sangat minim. Selamat mencoba....

Gambar omelet yang telah diprektekkan oleh siswa kelas 9 di MTsS. Bahrul Ulum
We have to prepare:
-      *   2 eggs
-      *   Oil
-      *   Salt or flavor
-      *   Leek
-      *   Chili
-      *   Tomato
-      *   Sausage
-      *   Pan
-      *   Stove

The steps:
1.       First, Break the eggs and put it into a bowl.
2.       Add some leek, chili, and salt. Mix them well.
3.       Put the pan on the stove. Pour some oil into the pan.  
4.       Turn on the stove. Wait until the pan is warm.
5.       Pour the egg mixture into the pan.
6.       Cook it until the color is light brown. Turn it and do the same.
7.       Then, pick up the omelet and put it on a plate.
8.       Add some slices of tomato and sausage for garnish.
9.       Finally, the simple omelet is ready to be served.

Sunday, February 23, 2020

PENGALAMAN MENGAJUKAN KPR DI BANK BRI


Seperti kata pepatah mati  satu tumbuh seribu. Ditolak di bank BTN bukanlah akhir dari perjuangan kami untuk mendapatkan sebuah rumah harapan. Seperti ditulisan saya yang sebelumnya, pengajuan kami gagal diapprove di Bank BTN setelah menanti kurang lebih 6 bulan lamanya. Saat itu juga kami sudah memikirkan ke mana arah kami selanjutnya yaitu Bank BRI. Mengapa kami memilih Bank BRI bukan bank lain? Alasannya karena kami merupakan salah satu mitra Bank BRI yang bekerjasama sebagai agen Brilink. Berharap pengajuan kami kali ini bisa disetujui.

Setelah dengar kabar berkas pengajuan kami ditolak oleh bank BTN, esoknya tanggal 19 November 2019  kami bergegas ke kantornya untuk segera menarik kembali berkas pengajuan kami. Selanjutnya kami menuju bank BRI untuk tanya-tanya tentang KPR bank BRI. Sebenarnya saya sudah menghubungi duluan salah satu staf bagian KPR setelah dapat nomor HPnya dari mantri kami di bank BRI Unit Bontosunggu. Dan akhirnya kami bertemu dengan seorang staf bagian KPR yang bernama Ibu Ratna. Syukur Alhamdulillah, orangnya terlihat baik dan ramah. Saat itu Ibu Ratna memberikan daftar persyaratan apa-apa saja yang harus dilengkapi untuk pengajuan kami. Saya pun menjelaskan bahwa sebenarnya kami sudah pernah mengajukan KPR di Bank BTN tetapi ditolak karena ada faktor kesalahan penginputan berkas. Selain itu, pihak penjual rumah yang sudah keburu minta pengajuannya segera disetujui. Pada saat itu ibu Ratna hanya merespon bahwa beliau belum bisa memproses berkas kami bulan itu juga dan tidak bisa menjanjikan apakah berkas kami bisa diproses bulan desember Karena berkas yang sudah masuk pun sudah menumpuk di mejanya. Akhirnya kami pulang hanya dengan membawa selembar kertas persyaratan tadi. Sempat galau lagi, gimana caranya supaya bisa mendapatkan uang yang banyak sehingga bisa melunasi rumahnya. Cari bank lain atau menyerah saja. But....it’s not me if I give up so easily. So, let’s start our fighting. Masukkan berkas saja, nanti kita lihat bisa prosesnya cepat atau lambat.
 
Simulasi KPR dan persyaratannya.
Sepulang dari bank BRI, saya langsung kembali membuka berkas yang saya ambil dari bank BTN, ternyata ada beberapa yang kurang. Surat Keterangan Usaha, Print out rekening Koran 6 bulan terakhir, dan slip gaji tidak ada di dalam map tersebut. Entah tercecer atau memang tidak dimasukkan. Hmmm…sedikit kecewa karena itu artinya saya harus menyiapkan kembali lembaran-lembaran yang tidak ada tersebut. Berdasarkan persayaratan dari Bank BRI, di situ tertera harus ada laporan keuangan selama 2 tahun terakhir. Ini yang tersulit bagi kami. Selama ini kami membuat laporan keuangan toko secara terpisah-pisah, itupun bentuknya acakadul di buku catatan. Waktu pengajuan di bank BTN, saya juga sudah pernah membuat laporan keuangannya, tapi hanya 3 bulan terakhir. Setelah sehari semalam, buka bolak balik buku catatan dan nota-nota pengeluaran….finally, laporan keuangan selama 2 tahun selesai dibuat. Esoknya pagi-pagi sudah ngantri lagi di bank tuk cetak rekening koran dan itu artinya bayar lagi 25 ribu. Setelah itu, lanjut ke kantor desa untuk ambil Surat Keterangan Usaha yang sudah terlebih dahulu saya suruh buatkan ulang ke adik yang bekerja sebagai staf di sana. Alhamdulillah selesai…lanjut ke sekolah tanda tangan slip gaji oleh kepala sekolah. Kebetulan saya sendiri bendaharanya, jadi saya sendiri yang buat ulang trus ditanda tangani oleh kepala sekolah. Alhamdulillah selesai juga. Selanjutnya berkas disusun secara berurutan, lengkap dan dijepit supaya tidak tercecer. Walaupun saya memasukkan slip gaji sebagai guru, kami juga  tetap memasukkan laporan keuangan usaha kami. Pengalaman di bank BTN yang kemarin, berkas diminta satu per satu yang belum lengkap bahkan ada yang salah input. Jadi, kali ini kami lebih berhati-hati dan lebih teliti.

Kami tidak memasukkan sendiri berkas kami ke bank karena pihak dari penjual juga harus memasukkan berkasnya. Jadi berkas kami titip kepada pihak penjual. Sayangnya begitu berkas kami sampai di tangan pihak penjual, berkasnya malah dipilah-pilah lagi (ini kata pak suami karena saya tidak ikut pada saat itu), padahal berkasnya sudah lengkap dan berurut.

Tanggal 16 Desember 2019 atau beberapa hari setelah kami memasukkan berkas, kami menerima telepon dari bu Ratna, petugas KPR Bank BRI. Kami diberikan beberapa pertanyaan seputar pengajuan KPR kami, alamat dan harga rumah yang akan kami beli, pekerjaan, jumlah penghasilan, dan sebagainya. Selanjutnya kami diminta melengkapi beberapa kekurangan berkas seperti slip gaji, rekening koran dan surat keterangan aktif bekerja. Padahal, saya sudah melengkapi slip gaji dan rekening koran 6 bulan terakhir pada saat penyerahan berkas kepada pihak penjual. Syukur rekening yang saya punya adalah rekening BRI, jadi bu Ratna yang akan membantu mencetak rekening koran atas nama saya. Slip gaji bisa saya buat kembali, tinggal minta tanda tangan lagi sama bu kepala sekolah. Dan sisanya saya hanya perlu membuat surat keterangan aktif bekerja. Setelah smuanya beres, esokya langsung kami bawa ke kantor Bank BRI. Dan oh iya, saya difoto langsung di tempat oleh Bu Ratna dan juga foto suami saya diminta (kami kirim lewat Whatsapp). Untuk kelengkapan berkas harus ada fotonya.

Tanggal 7 Januari 2020, saya kembali menghubungi Bu Ratna karena sampai saat itu belum juga ada kabar dan katanya masih dalam proses. Tanggal 17 Januari saya hubungi lagi dan masih dalam proses. Tanggal 23 Januari saya menerima telepon dari BRI Kantor Wilayah Makassar, pembicaraan kami hanya seputar konfirmasi tentang pengajuan KPR kami, selain itu mereka juga menanyakan nomor telepon/hp kepala sekolah dan salah satu keluarga tidak serumah yang bisa dihubungi. Dua hari setelahnya, kami mendapat informasi dari pihak penjual, bahwa setelah dikalkulasi penghasilan saya sendiri  sebagai seorang guru perbulannya  belum cukup untuk memenuhi persyaratan agar pengajuan kami bisa disetujui dan pihak bank akan datang men-survey usaha kami.

Tanggal 23 Januari Bu Ratna dan salah seorang staf dari BRI datang ke toko kami untuk proses survey. Pada saat itu mereka hanya mengambil beberapa gambar toko dan juga mengajukan beberapa pertanyaan seputar usaha kami. Tak lupa Bu Ratna kembali mengajukan pertanyaan seputar harga rumah dan DP. Harga rumah 250 juta rupiah dengan DP 30 juta rupiah.  Kemudian kami memperlihatkan kwitansi bukti pembayaran DP kami yang sudah lunas. Sehari sebelumnya rumah yang akan kami beli juga sudah datang disurvey oleh mereka.

Tanggal 27 Januari, kami mendapat kabar dari Bu Ratna melalui chat Whatsapp bahwa pengajuan kami yang disetujui hanya 190 juta atau istilahnya turun plafon dari yang kami ajukan 220juta. Dan jangka waktu yang tadinya kami ajukan 15 tahun, tapi yang disetujui hanya sampai 10 tahun. Hufthhhh….itu artinya kami masih harus membayar pihak penjual sejumlah 30 juta dan jumlah cicilan kami per bulan tentunya akan menjadi lebih besar karena jangka waktunya dikurangi. Setelah berdiskusi dengan pihak penjual melalui whatsapp, akhirnya kami memutuskan untuk menerima penawaran tersebut.  Pihak penjual memberi kami keringanan untuk mencicil sisa pembayaran yang 30 juta tersebut.

Tanggal 14 Februari 2020, kami ke notaris untuk melunasi pajak BPHTB sejumlah 6.500.000 untuk pembeli dan PPH 4.700.000 untuk penjual. Sebenarnya masih agak deg-degan karena kami masih harus membayar biaya-biaya notaris, bank dan asuransi. Kira-kira berapa yah total yang harus kami bayarkan? Salah satu staf notaris berkata akan menginfokan kami melalui Whatsapp berapa rincian baiyanya.

Tanggal 15 Februari, kami dapat info dari pihak penjual bahwa akad kredit akan dilaksanakan hari Selasa tanggal 18 Februari 2020. WHATTTT??? Kami kan belum dapat info berapa rincian sisa biaya yang harus kami lunasi. Ternyata pihak notaris hanya menghubungi pihak penjual mengenai rincian biaya-biayanya. Dan kami pun melihat daftarnya. Cukup kaget juga. Itu baru biaya notaris loh….blum biaya bank dan asuransinya.
 
Rincian biaya notaris.
Tanggal 17 Februari 2020, penasaran dengan rincian biayanya, kok mahal amat ya, kami juga tidak paham dengan apa-apa saja itu, kami memutuskan untuk langsung mendatangi kantor notarisnya untuk minta penjelasan. Penjelasan yang kami dapat yaitu bahwa surat pernyataan yang ada dalam daftar bukan tanggungan kami sebagai pembeli, tetapi merupakan tanggungan pihak penjual. Mereka hanya sengaja memasukkan ke dalam daftar rincian kami agar mereka tidak lupa pada saat akad kredit. Saya hanya perlu mengingatkan mereka bahwa itu bukan biaya kami. Mereka yang akan menyampaikan kepada pihak penjual. sedikit melegakan karena beban biaya notaris kami berkurang satu juta.

Next, kami menuju bank BRI untuk meminta rincian biaya bank dan asuransi. Rinciannya sebagai berikut:
Plafond
190,000,000
Asuransi Jiwa
1,533,300
Asuransi Kebakaran
349,488
Provisi
1,425,000
Administrasi
500,000
Blokir 1x Angsuran
2,510,900
TOTAL
6,318,688

Notaris
12,956,000
TOTAL
19,274,688

Kalau ditotal dengan biaya pajak BPHTB yang telah kami bayarkan, jumlah biaya-biayanya jadi 26,774,688. Hal ini membuat kami cukup panik untuk menyiapkan dananya. Uang yang kami punya hanya modal usaha, itu pun kalau cukup. Setelah pulang ke rumah, hitung-hitung sisa uang yang kami punya ternyata kurang. Uang yang kami punya sisa 17 juta rupiah. Pilihan satu-satunya adalah menggadaikan emas yang kami punya. Syukur Alhamdulillah setelah menggadaikan 1 gelang, 2 cincin dan 5 gram logam mulia, kami bisa dapat 11,400,000. Lumayan, masih ada sisanya tuk modal usaha.

Tanggal 18 Februari 2020….Finally, akad kredit……

Ceritanya lanjut di tulisan selanjutnya yach…..