Tuesday, March 3, 2020

Contoh - Descriptive Text about A House


Berikut adalah salah satu contoh descriptive  text tentang rumah yang merupakan salah satu materi pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 7 tingkat SMP/MTS pada chapter VII.


Gambar ilustrasi diambil dari sumber www.popbela.com
  MY SMALL HOUSE

       I live in a small house. The color is yellow and white. There is a rose apple tree in the front yard. Inside my house, there are six rooms: a living room, two bedrooms, a bathroom, a family room, and a kitchen.

                The living room is small, so there are only a set of small sofas. The colors of the sofas are green. The curtains are green too. We usually sit here when we have guests. The first bedroom is my bedroom and my husband’s. It is on the left of the living room. There is a bed, a wardrobe, a dresser, and a big mirror. I like sitting near the window because I can see the plants outside of my house through the window.

                The second bedroom is my son’s bedroom. There are a lot of toys inside it. The bathroom is between my bedroom and my son’s bedroom. The family room is the most comfortable room in my house. There is a television, it sets on the wall. In front of the TV, there is a large carpet and a couch where we usually spend our spare time for relaxing.

              The kitchen is also small. But, we can find everything for cooking and eating inside it. There are two stoves, a sink, some pans, plates, spoons, bowls, a frying pan, a spatula, a kettle, etc. there is also a small dining table with four chairs where we usually have our breakfast, lunch, and dinner together.

               I really love my house. It is small but it is very nice for living.


Monday, February 24, 2020

How to Make A Simple Omelet

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....

Ibu dan Bapak guru sekalian yang mengajar Bahasa Inggris di kelas 9 tingkat SMP/MTS, mungkin ada yang kebingungan mencari materi untuk procedure text. Berikut adalah salah satu contoh procedure text yang bisa di manfaatkan sekaligus dipraktekkan di depan kelas. Mengapa saya memilih cara membuat omelet? Karena bahan-bahannya mudah didapatkan dan alat-alat yang digunakan sangat minim. Selamat mencoba....

Gambar omelet yang telah diprektekkan oleh siswa kelas 9 di MTsS. Bahrul Ulum
We have to prepare:
-      *   2 eggs
-      *   Oil
-      *   Salt or flavor
-      *   Leek
-      *   Chili
-      *   Tomato
-      *   Sausage
-      *   Pan
-      *   Stove

The steps:
1.       First, Break the eggs and put it into a bowl.
2.       Add some leek, chili, and salt. Mix them well.
3.       Put the pan on the stove. Pour some oil into the pan.  
4.       Turn on the stove. Wait until the pan is warm.
5.       Pour the egg mixture into the pan.
6.       Cook it until the color is light brown. Turn it and do the same.
7.       Then, pick up the omelet and put it on a plate.
8.       Add some slices of tomato and sausage for garnish.
9.       Finally, the simple omelet is ready to be served.

Sunday, February 23, 2020

PENGALAMAN MENGAJUKAN KPR DI BANK BRI


Seperti kata pepatah mati  satu tumbuh seribu. Ditolak di bank BTN bukanlah akhir dari perjuangan kami untuk mendapatkan sebuah rumah harapan. Seperti ditulisan saya yang sebelumnya, pengajuan kami gagal diapprove di Bank BTN setelah menanti kurang lebih 6 bulan lamanya. Saat itu juga kami sudah memikirkan ke mana arah kami selanjutnya yaitu Bank BRI. Mengapa kami memilih Bank BRI bukan bank lain? Alasannya karena kami merupakan salah satu mitra Bank BRI yang bekerjasama sebagai agen Brilink. Berharap pengajuan kami kali ini bisa disetujui.

Setelah dengar kabar berkas pengajuan kami ditolak oleh bank BTN, esoknya tanggal 19 November 2019  kami bergegas ke kantornya untuk segera menarik kembali berkas pengajuan kami. Selanjutnya kami menuju bank BRI untuk tanya-tanya tentang KPR bank BRI. Sebenarnya saya sudah menghubungi duluan salah satu staf bagian KPR setelah dapat nomor HPnya dari mantri kami di bank BRI Unit Bontosunggu. Dan akhirnya kami bertemu dengan seorang staf bagian KPR yang bernama Ibu Ratna. Syukur Alhamdulillah, orangnya terlihat baik dan ramah. Saat itu Ibu Ratna memberikan daftar persyaratan apa-apa saja yang harus dilengkapi untuk pengajuan kami. Saya pun menjelaskan bahwa sebenarnya kami sudah pernah mengajukan KPR di Bank BTN tetapi ditolak karena ada faktor kesalahan penginputan berkas. Selain itu, pihak penjual rumah yang sudah keburu minta pengajuannya segera disetujui. Pada saat itu ibu Ratna hanya merespon bahwa beliau belum bisa memproses berkas kami bulan itu juga dan tidak bisa menjanjikan apakah berkas kami bisa diproses bulan desember Karena berkas yang sudah masuk pun sudah menumpuk di mejanya. Akhirnya kami pulang hanya dengan membawa selembar kertas persyaratan tadi. Sempat galau lagi, gimana caranya supaya bisa mendapatkan uang yang banyak sehingga bisa melunasi rumahnya. Cari bank lain atau menyerah saja. But....it’s not me if I give up so easily. So, let’s start our fighting. Masukkan berkas saja, nanti kita lihat bisa prosesnya cepat atau lambat.
 
Simulasi KPR dan persyaratannya.
Sepulang dari bank BRI, saya langsung kembali membuka berkas yang saya ambil dari bank BTN, ternyata ada beberapa yang kurang. Surat Keterangan Usaha, Print out rekening Koran 6 bulan terakhir, dan slip gaji tidak ada di dalam map tersebut. Entah tercecer atau memang tidak dimasukkan. Hmmm…sedikit kecewa karena itu artinya saya harus menyiapkan kembali lembaran-lembaran yang tidak ada tersebut. Berdasarkan persayaratan dari Bank BRI, di situ tertera harus ada laporan keuangan selama 2 tahun terakhir. Ini yang tersulit bagi kami. Selama ini kami membuat laporan keuangan toko secara terpisah-pisah, itupun bentuknya acakadul di buku catatan. Waktu pengajuan di bank BTN, saya juga sudah pernah membuat laporan keuangannya, tapi hanya 3 bulan terakhir. Setelah sehari semalam, buka bolak balik buku catatan dan nota-nota pengeluaran….finally, laporan keuangan selama 2 tahun selesai dibuat. Esoknya pagi-pagi sudah ngantri lagi di bank tuk cetak rekening koran dan itu artinya bayar lagi 25 ribu. Setelah itu, lanjut ke kantor desa untuk ambil Surat Keterangan Usaha yang sudah terlebih dahulu saya suruh buatkan ulang ke adik yang bekerja sebagai staf di sana. Alhamdulillah selesai…lanjut ke sekolah tanda tangan slip gaji oleh kepala sekolah. Kebetulan saya sendiri bendaharanya, jadi saya sendiri yang buat ulang trus ditanda tangani oleh kepala sekolah. Alhamdulillah selesai juga. Selanjutnya berkas disusun secara berurutan, lengkap dan dijepit supaya tidak tercecer. Walaupun saya memasukkan slip gaji sebagai guru, kami juga  tetap memasukkan laporan keuangan usaha kami. Pengalaman di bank BTN yang kemarin, berkas diminta satu per satu yang belum lengkap bahkan ada yang salah input. Jadi, kali ini kami lebih berhati-hati dan lebih teliti.

Kami tidak memasukkan sendiri berkas kami ke bank karena pihak dari penjual juga harus memasukkan berkasnya. Jadi berkas kami titip kepada pihak penjual. Sayangnya begitu berkas kami sampai di tangan pihak penjual, berkasnya malah dipilah-pilah lagi (ini kata pak suami karena saya tidak ikut pada saat itu), padahal berkasnya sudah lengkap dan berurut.

Tanggal 16 Desember 2019 atau beberapa hari setelah kami memasukkan berkas, kami menerima telepon dari bu Ratna, petugas KPR Bank BRI. Kami diberikan beberapa pertanyaan seputar pengajuan KPR kami, alamat dan harga rumah yang akan kami beli, pekerjaan, jumlah penghasilan, dan sebagainya. Selanjutnya kami diminta melengkapi beberapa kekurangan berkas seperti slip gaji, rekening koran dan surat keterangan aktif bekerja. Padahal, saya sudah melengkapi slip gaji dan rekening koran 6 bulan terakhir pada saat penyerahan berkas kepada pihak penjual. Syukur rekening yang saya punya adalah rekening BRI, jadi bu Ratna yang akan membantu mencetak rekening koran atas nama saya. Slip gaji bisa saya buat kembali, tinggal minta tanda tangan lagi sama bu kepala sekolah. Dan sisanya saya hanya perlu membuat surat keterangan aktif bekerja. Setelah smuanya beres, esokya langsung kami bawa ke kantor Bank BRI. Dan oh iya, saya difoto langsung di tempat oleh Bu Ratna dan juga foto suami saya diminta (kami kirim lewat Whatsapp). Untuk kelengkapan berkas harus ada fotonya.

Tanggal 7 Januari 2020, saya kembali menghubungi Bu Ratna karena sampai saat itu belum juga ada kabar dan katanya masih dalam proses. Tanggal 17 Januari saya hubungi lagi dan masih dalam proses. Tanggal 23 Januari saya menerima telepon dari BRI Kantor Wilayah Makassar, pembicaraan kami hanya seputar konfirmasi tentang pengajuan KPR kami, selain itu mereka juga menanyakan nomor telepon/hp kepala sekolah dan salah satu keluarga tidak serumah yang bisa dihubungi. Dua hari setelahnya, kami mendapat informasi dari pihak penjual, bahwa setelah dikalkulasi penghasilan saya sendiri  sebagai seorang guru perbulannya  belum cukup untuk memenuhi persyaratan agar pengajuan kami bisa disetujui dan pihak bank akan datang men-survey usaha kami.

Tanggal 23 Januari Bu Ratna dan salah seorang staf dari BRI datang ke toko kami untuk proses survey. Pada saat itu mereka hanya mengambil beberapa gambar toko dan juga mengajukan beberapa pertanyaan seputar usaha kami. Tak lupa Bu Ratna kembali mengajukan pertanyaan seputar harga rumah dan DP. Harga rumah 250 juta rupiah dengan DP 30 juta rupiah.  Kemudian kami memperlihatkan kwitansi bukti pembayaran DP kami yang sudah lunas. Sehari sebelumnya rumah yang akan kami beli juga sudah datang disurvey oleh mereka.

Tanggal 27 Januari, kami mendapat kabar dari Bu Ratna melalui chat Whatsapp bahwa pengajuan kami yang disetujui hanya 190 juta atau istilahnya turun plafon dari yang kami ajukan 220juta. Dan jangka waktu yang tadinya kami ajukan 15 tahun, tapi yang disetujui hanya sampai 10 tahun. Hufthhhh….itu artinya kami masih harus membayar pihak penjual sejumlah 30 juta dan jumlah cicilan kami per bulan tentunya akan menjadi lebih besar karena jangka waktunya dikurangi. Setelah berdiskusi dengan pihak penjual melalui whatsapp, akhirnya kami memutuskan untuk menerima penawaran tersebut.  Pihak penjual memberi kami keringanan untuk mencicil sisa pembayaran yang 30 juta tersebut.

Tanggal 14 Februari 2020, kami ke notaris untuk melunasi pajak BPHTB sejumlah 6.500.000 untuk pembeli dan PPH 4.700.000 untuk penjual. Sebenarnya masih agak deg-degan karena kami masih harus membayar biaya-biaya notaris, bank dan asuransi. Kira-kira berapa yah total yang harus kami bayarkan? Salah satu staf notaris berkata akan menginfokan kami melalui Whatsapp berapa rincian baiyanya.

Tanggal 15 Februari, kami dapat info dari pihak penjual bahwa akad kredit akan dilaksanakan hari Selasa tanggal 18 Februari 2020. WHATTTT??? Kami kan belum dapat info berapa rincian sisa biaya yang harus kami lunasi. Ternyata pihak notaris hanya menghubungi pihak penjual mengenai rincian biaya-biayanya. Dan kami pun melihat daftarnya. Cukup kaget juga. Itu baru biaya notaris loh….blum biaya bank dan asuransinya.
 
Rincian biaya notaris.
Tanggal 17 Februari 2020, penasaran dengan rincian biayanya, kok mahal amat ya, kami juga tidak paham dengan apa-apa saja itu, kami memutuskan untuk langsung mendatangi kantor notarisnya untuk minta penjelasan. Penjelasan yang kami dapat yaitu bahwa surat pernyataan yang ada dalam daftar bukan tanggungan kami sebagai pembeli, tetapi merupakan tanggungan pihak penjual. Mereka hanya sengaja memasukkan ke dalam daftar rincian kami agar mereka tidak lupa pada saat akad kredit. Saya hanya perlu mengingatkan mereka bahwa itu bukan biaya kami. Mereka yang akan menyampaikan kepada pihak penjual. sedikit melegakan karena beban biaya notaris kami berkurang satu juta.

Next, kami menuju bank BRI untuk meminta rincian biaya bank dan asuransi. Rinciannya sebagai berikut:
Plafond
190,000,000
Asuransi Jiwa
1,533,300
Asuransi Kebakaran
349,488
Provisi
1,425,000
Administrasi
500,000
Blokir 1x Angsuran
2,510,900
TOTAL
6,318,688

Notaris
12,956,000
TOTAL
19,274,688

Kalau ditotal dengan biaya pajak BPHTB yang telah kami bayarkan, jumlah biaya-biayanya jadi 26,774,688. Hal ini membuat kami cukup panik untuk menyiapkan dananya. Uang yang kami punya hanya modal usaha, itu pun kalau cukup. Setelah pulang ke rumah, hitung-hitung sisa uang yang kami punya ternyata kurang. Uang yang kami punya sisa 17 juta rupiah. Pilihan satu-satunya adalah menggadaikan emas yang kami punya. Syukur Alhamdulillah setelah menggadaikan 1 gelang, 2 cincin dan 5 gram logam mulia, kami bisa dapat 11,400,000. Lumayan, masih ada sisanya tuk modal usaha.

Tanggal 18 Februari 2020….Finally, akad kredit……

Ceritanya lanjut di tulisan selanjutnya yach…..


Friday, December 20, 2019

Tips Agar Tidak Lupa Membawa Barang Saat Bepergian Jauh

Sering nggak sih pada saat bepergian ada-ada saja barang yang ketinggalan atau lupa terbawa?  Auto panik jadinya,  apalagi barang yang ketinggalan tersebut merupakan barang yang penting atau must be brought.  Dan makin parah lagi kalau kita bepergian jauh dan baru tau bahwa ada yang ketinggalan saat sudah sampai di tujuan.  Dulu sih saya sering banget begitu... Kalau sudah kejadian begitu jadi auto nyesal kenapa nggak di check lagi sebelum berangkat.  Nah... Saya punya cara tersendiri nih supaya barang-barang yang penting tidak terlupakan.  Saya sudah menerapkan cara jitu ini sejak jaman kuliah dulu sewaktu akan berangkat KKN.  Mengingat lokasi yg lumayan jauh dan durasi KKNnya yang menurutku lamaaa,  saya jadi memikirkan sebuah cara agar tak ada satupun yang terlupakan.  

Nahhh... Mau tau nggak caranya?  

Gini nih cara saya.... Jadi biasanya beberapa hari sebelum berangkat tuk pergi jauh,  saya sudah menyiapkan sebuah list (daftar)  barang yang harus dibawa mulai yang terbesar sampai yang terkecil.  Terkadang sambil saya mengerjakan sesuatu tiba-tiba teringat hal penting lain yang blum tercatat,  tinggal saya tambahkan saja daftarnya.  Begitu seterusnya hingga list yang must be brought sudah lengkap.  Sebelum packing barang bawaan,  saya cek lagi, semua sudah lengkap atau belum. Sambil masukin barang ke tas atau koper,  saya beri tanda checklist pada nama barang yang sudah saya masukkan. Dengan demikian,  barang bawaan sudah aman terkendali.  (hehehehhhh... Maksudnya Insya Allah tidak akan ada yang ketinggalan). 

Mengapa saya harus membuat 'list'?  Karena saya merupakan seorang yang pelupa dan bukan tipe orang yang tiba masa tiba akal.  Everything must be organized well before the time comes. Dan Alhamdulillah cara ini cukup jitu bagi saya.  Saya sudah sering menerapkannya ketika akan bepergian jauh.  Saya tidak bisa menjamin cara ini berhasil 100% pada diri anda, namun setidaknya dapat meminimalisir tingkat 'kelupaan'. 

Ok...That's all from me now.  Have a nice day to you all.  

Wednesday, November 20, 2019

Pengajuan KPR di Bank BTN Ditolak!!!



            Yang namanya penolakan pasti rasanya sakit banget. Rasanya lebih sakit dari putus cinta. Jadi kepikiran terus gimana nasib rumah idamanku. Otak sudah mulai berpikir keras gimana caranya supaya rumah yang sudah saya pilih tersebut tidak batal untuk dibeli. Jadi ceritanya begini………
            6 bulan yang lalu saya sudah survey beberapa perumahan yang hendak kami beli. Sebenarnya niatnya hanya sekedar tanya-tanya saja dulu. Urusan beli atau tidak, nanti dipertimbangkan. Tuk bayar DP saja rasanya masih berat. Terakhir kami survey lokasi perumahan BTN Bumi Lestari 2 di limbung, saya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebenarnya saya sudah ceritakan alasannya pada tulisan sebelumnya (Baca: Hunting Perumahan). Akhirnya kami mengajukan berkas di bank BTN, bank yang dipilih oleh pemilik rumah yang akan kami beli. Harga cash rumah tersebut adalah 250 juta dengan DP 30 juta. Berarti plafon yang akan kami pinjam dari bank sekitar 220 juta rupiah. Kami pun diminta untuk membayar DP awal sekitar 10 juta dan kami sudah penuhi. Dengan bukti pembayaran kwitansi bermaterai. Tak berapa lama, si penjual rumah yang dalam hal ini diwakili oleh anaknya yang bernama Y karena bapaknya sedang tugas di Bandung, meminta kami untuk membayar DP 10 juta lagi. Dan kami pun terpaksa harus membayar lagi dengan harapan proses pengajuan berkas kami di bank tidak akan lama lagi terselesaikan. Jadi total DP yang telah kami bayarkan adalah 20 juta rupiah. Berkas yang kami setorkan ke bank waktu itu antara lain, mengisis formulir pengajuan yang dilengkapi foto suami istri ukuran 3 x 4, fotocopy KTP, fotocopy KK, print out rekening Koran 6 bulan terakhir, NPWP dan Surat Keterangan Usaha.
Awalnya saya ingin mengajukan berkas atas nama saya sebagai Istri, tapi pihak penjual rumah lebih memilih berkas data suami. Akhirnya saya ikuti saja keinginan mereka. Setelah menunggu sekitar 2 minggu, ada panggilan dari bank untuk wawanncara. Waktu itu bulan Ramadhan, saya sedang ada pelatihan di balai diklat dan terpaksa saya harus bolos, keluar dari kelas tanpa  sepengetahuan widyaswara ataupun panitia. Pikirku cuma sebentar saja.  Wawancara kami memang berlangsung tidak begitu lama. Hanya sekitar kurang lebih setengah jam. Tentu saja poin yang paling penting ditanyakan adalah jumlah penghasilan per bulan, sumbernya dari mana saja dan berapa jumlah karyawan yang dimiliki.
Tak berapa lama pihak pengurus berkas kami menghubungi kami lagi agar mengganti Surat Keterangan Usaha kami yang tadinya kami cantumkan hanya 3 tahun, diganti jadi 5 tahun. Syukur saja ada adik yang bekerja sebagai staf di kantor desa. Jadi kami tidak begitu kesulitan mengganti Surat Keterangan Usaha kami.
Setelah lebaran idul fitri atau sebulan kemudian, belum juga ada kabar tentang pengajuan kami di bank. Saat itu orang tuaku berniat membantu kami untuk membiayai pembangunan dapur rumah yang akan kami beli. Begitu pinjaman banknya cair, mulailah mereka membeli bahan dan alat yang akan digunakan dan juga menghubungi tukang yang akan mengerjakan dapur kami. Kami pun memasang mesin air agar ada sumber air yang bisa digunakan. Tadinya dibrosur iklan runah yang kami terima, tercantum ada air PDAMnya. Tapi ternyata tuk memasang air PDAM, biayanya tidak murah. Jadi mereka hanya menyediakan kami pipa bor.
Lebih dari sebulan akhirnya dapur kami sudah rampung sekitar 90 persen. Itupun mesti ganti tukang karena tukang kami yang pertama terkesan memperlambat kerjanya. Padahal mereka dibayar harian. Tukang yang kedua pun tidak begitu memuaskan karena mereka hanya bisa bekerja di malam hari karena mereka mempunyai pekerjaan utama pagi sampe sore hari. Dan akhirnya, kerja mereka jadi tidak maksimal karena mereka kadang tidak masuk kerja karena kelelahan. Syukur Alhamdulillah dapur bagian dalamnya sudah lumayan bagus tinggal di cat dan diplester bagian luarnya.
Sehari setelah lebaran Idul Adha, kami sudah sempat masuk rumah kecil-kecilan. Kami pun memutuskan untuk nginap semalam di sana bersama beberapa kerabat yang lain. Malam selanjutnya kami coba lagi untuk nginap, tapi sepertinya Jagdish, anak kami belum siap tuk tinggal di rumah yang baru. Dia nangis-nangis mencari alasan agar bisa pulang. Dia masih nyaman dengan kamarnya yang ada di rumah orang tua kami. Pukul 2 dini hari, kami terpaksa pulang ke rumah orang tua kami di Boka.
Beberapa hari kemudian,kami menerima telpon dari pusat bank BTN tuk konfirmasi katanya. Sebenarnya kami sudah pernah dihubungi sebelumnya, akan tetapi kami tidak tahu bahwa akan dihubungi oleh pihak bank sehingga terlewatkan begitu saja. Jadilah kami menunggu lagi untuk panggilan berikutnya. Pak suami hanya menjawab pertanyaan bank dengan jawaban ya/tidak (begitu yang saya dengar).
Sejak terakhir kami meninggalkan rumah lewat tengah malam tadi, kami sudah tidak pernah lagi datang ke rumah tersebut untuk nginap. Kami pernah datang ke sana sekali, tapi hanya untuk mengambil beberapa barang. Padahal pihak penjual rumah sudah mengizinkan kami untuk tinggal di rumah itu. Hanya saja kami merasa tidak enak dengan nenek si pemilik rumah yang datang beberapa kali berniat untuk menagih pelunasan rumah tersebut. Kami pun sempat terganggu dengan kedatangan nenek tersebut. Sepertinya beliau tidak mengerti dengan prosedur bank. Setelah kami jelaskan, barulah beliau sedikit paham. Tapi tetap saja, kami merasa tidak nyaman untuk menempati rumah tersebut sebelum ada kesepakatan akad kredit.
Kami pun menanti hari berganti hari, minggu pun silih berganti., ternyata ada lagi informasi bahwa berkas pengajuan suami diganti menjadi berkas pengajuan istri. Mungkin berkas sebelumnya sudah ditolak. Yaaa…berarti harus memulai lagi dari awal. Kembali lagi saya diminta untuk melengkapi berkas, laporan SPT dan print out rekening Koran 3 bulan terakhir. Setelah itu kami menunggu panggilan untuk wawancara kembali. Sesuai dengan janji melalui telpon, kami pun memenuhi panggilan untuk wawancara. Namun, pada saat kami datang, kebetulan Ibu R yang akan mewawancarai kami sedang ada wawancara lainnya, jadi beliau menyampaikan agar wawancara kami lewat telpon saja. Kami pun menunggu telpon dari Ibu R sampai berhari-hari, namun belum jua ada panggilan dari beliau. Akhirnya kami memutuskan untuk datang saja ke bank menemui Ibu R. Kami pun diwawancara lagi. Setelah itu kami diminta untuk menunggu telepon konfirmasi dari pusat (Jakarta). Sebelumnya Ibu R, meminta nomor telpon salah satu kerabat dan atasan, serta jam-jam untuk bisa menghubungi mereka.
Menunggu hampir sebulan lamanya sejak wawancara yang kedua, tapi telepon dari pusat belum datang jua. Saya tadinya berprasangka baik, mungkin antrian berkas lagi numpuk. Hingga suatu hari kami dengar kabar dari si penjual rumah bahwa berkas kami ditolak. Sumpah kaget seketika. Tadinya nasi sudah di piring hendak makan, tapi dengar kabar buruk itu selera makan hilang seketika. Trus saya coba konfirmasi ke Bu R. Chat via Wa, takutnya beliau sedang sibuk. Nunggu sekitar beberapa jam chatku baru dibalas, saya diminta nelpon jam 3. Sekitar jam 3 sore saya coba hubungi kembali Bu R, tapi sayangnya saya disuruh lagi nunggu 20 menit, nanti saya yang akan dihubungi oleh beliau. Akhirnya saya stand by dekat HP selama 20 menit…satu jam….dua jam….tiga jam….hingga hari berganti. Esoknya saya hubungi kembali Bu R, tapi belum juga dibalas. Esoknya lagi, saya coba lagi chat beliau, lagi-lagi tidak dibalas, hanya di-read.
Kami putuskan untuk datang langsung menemui Bu R di bank. Syukur Alhamdulillah bisa ketemu. Dan penjelasan beliau tentang penolakan berkas kami yaitu pertama Surat Keterangan Usaha yang kami masukkan di awal pengajuan berkas hanya 3 tahun, padahal persyaratan harusnya minimal 5 tahun. Saya pun mencoba menjelaskan bahwa kami sebenarnya telah mengganti Surat Keterangan Usaha kami dengan jangka waktu 5 tahun sejak masih pengajuan berkas atas nama suami saya. Tapi beliau tetap bersikeras bahwa yang ada diberkas hanya 3 tahun. Saya sebenarnya agak dongkol dalam hati kepada pengurus berkas kami yang tidak begitu memperhatikan berkas kami. Harusnya dia sudah mengecek dari awal segala kelengkapan berkas kami, sudah oke atau belum. Jujur kami ini juga terbilang baru dalam hal pengajuan berkas pinjaman semacam ini. Jadi meskipun kami sudah mengganti Surat Keterangan Usaha kami dengan lama 10 tahun di pengajuan berkas atas nama saya, pihak yang mensurvey tempat usaha kami tetap menginput data usaha kami yang lamanya 3 tahun dengan alasan masih dengan usaha yang sama di pengajuan awal. Sehingga berkas kami langsung direject.
Sebenarnya Bu R berniat mengajukan banding dengan menjelaskan bahwa sebenarnya tadinya usaha saya dan suami terpisah sebelum kami menikah dan baru kami gabungkan menjadi satu sejak kami sudah menikah dan lamanya adalah 5 tahun. Namun, Pak RU bapak dari Y  pihak penjual rumah menelpon kepada Bu R dan menanyakan perihal berkas kami yang begitu lama dan prosesnya bertele-tele. Bu R pun menjelaskan bahwa mereka hanya berusaha membantu bagaimana caranya supaya berkas bisa di-approve. Tapi pak RU malah marah-marah dan menuduh yang tidak-tidak kepada Bu R tentang sertifikat rumahnya. Pak R mengira bahwa serifikat rumahnya ditahan oleh Bu R, padahal yang sertifikatnya sudah ada di tangan notaris.
Apa boleh buat Bu R sudah terlanjur kesal juga karena telah dituduh yang tidak-tidak dan membawa-bawa nama instansi tempat pak RU bekerja. Akhirnya berkas kami yang tadinya ingin diajukan banding, terpaksa ditahan dulu sampai ada konfirmasi dari pihak penjual dan pembeli, apakah berkasnya masih mau lanjut diproses atau tidak dengan konsekuensi kecil kemungkinan akan disetujui.
Setelah berdiskusi dengan Y, anak pihak penjual rumah, kami memutuskan untuk menyerahkan ke bu R untuk memastikan  dulu, apakah pihak yang mensurvey dan menginput data Surat Keterangan Usaha kami, masih bersedia mengubah datanya setelah mendengar penjelasan Bu R.
Kami pun pulang, Bu R hanya meminta saya untuk menghubungi beliau sekitar jam 5 Sore untuk menginformasikan apakah berkasnya masih bisa dilanjut atau tidak. Sekitar jam 5 lewat, saya pun menghubungi Bu R. Tak berapa lama sudah ada balasan dengan bunyi, “Mohon maaf bu, berkasnya tidak bisa dilanjut.” Saya hanya bisa membalas, “Terima kasih atas bantuannya selama ini bu. Besok saya ambil berkasnya. Bisa bu?”  Dijawabnya “Iya bu.”
Duh….sedihnya. Hati makin hancur rasanya. Tak tahu harus berbuat apa lagi. Penantian selama enam bulan berujung penolakan. But this is not the end of the world. Saya pun berpikir tuk mengajukan kembali ke bank lain. Saya coba bank BRI, mudah-mudahan langkah kami tidak begitu dipersulit mengingat kami juga adalah salah satu mitra bank BRI yaitu agen Brilink.


*Sebenarnya sejak dari awal saya tidak pernah berniat untuk berurusan masalah hutang piutang dengan bank, tapi apa boleh buat saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan rumah yang telah kami pilih tersebut. Saya pun tak putus-putusnya berdoa ke pada Allah agar diberikan jalan yang terbaik, jalan yang diridhoi oleh Allah. Kalaupun bank menolak pengajuan pinjaman kami, semoga Allah memberikan jalan lain yang tak kami sangka-sangka, dengan jalan yang halal, bukan dengan jalan riba. Aamiin…aamiin ya Rabbal Alamin……