Follow by Email

Friday, November 2, 2012

Antara Pesantren dan Oxford



Seperti kata pepatah dalam bahasa Inggris “different pond, different fish” atau dalam bahasa Indonesia “lain lubuk, lain ikannya”. Sehari-hari saya mengajar Bahasa Inggris. Saya mengajar di dua tempat. Yang pertama di sebuah pesantren dan yang kedua di sebuah tempat kursus Bahasa Inggris. Di pesantren atau tepatnya di madrasah tsanawiyah saya mempunyai jadwal tiga kali seminggu, sementara di tempat kursus jadwalnya setiap hari dari pukul 13.00 hingga 18.30.

Awalnya saya memang tidak pernah berniat untuk menjadi seorang guru. Tapi, ternyata Tuhan telah merencankanku untuk menjadi seorang guru. Tahun 2006, saya mulai mengajar di pesantren, kala itu saya masih semester ke 5 di perguruan tinggi. Saya tiba-tiba dihubungi oleh salah seorang kerabat dekat yang juga merupakan kepala sekolah di madrasah. Saya diminta menggantikan guru bahasa Inggris yang sedang cuti hamil. Sempat ingin menolak dengan alasan saya tidak ingin jadi guru. Beribu alasan berekelebat di benakku, karena ukuran tubuhku yang kecil mungil, takut di olok-olok oleh siswa-siswaku, takut tidak bisa memarahi mereka yang bandel, takut tidak bisa membuat mereka memahami pelajaran. Tapi setelah berpikir matang-matang, saya hanya butuh pengalaman. Saya ingin merasakan bagaimana menjadi seorang guru. Pertama kali masuk mengajar, dugaanku tidak sepenuhnya benar. Ya memang ada beberapa siswa yang sempat mengejek secara tidak langsung bahwa saya pendek, namun kebanyakan menyambut saya dengan gembira. Kesyukuran saya bertambah karena rekan-rekan guru yang saya temui baik dan ramah. Tiap kali selesai mengajar, kami duduk-duduk dulu mengobrol, atau nonton TV sambil makan kue dan minum teh. Semakin hari semakin merasa dicintai oleh santri-santri membuatku semakin mencintai dunia pendidikan. Sebuah motivasi dan semangat yang membuat saya cinta menjadi guru. Sayang sekali, beberapa tahun belakangan ini rasanya sungguh jauh berbeda, bukan lantaran santri-santrinya. Saya bersyukur mereka masih mencintai saya. Yang membuat saya prihatin adalah hubungan sesama guru yang semakin merenggang. Saya memang tidak begitu banyak bicara, namun saya mengamati dan mempelajari karakter dan gerak-gerik mereka. Kecewa, karena apa yang pernah berlangsung menyenangkan dulunya, kini tidak lagi. Ini pendapat pribadi saya tentang teman-teman saya, yang satu sibuk mengeluhkan dan marah-marah tentang kebersihan yang kurang dan benda-benda inventaris sekolah yang hilang sembari menuduh si ini dan si itu. Satunya lagi guru yang tadinya rajin karena sering bersilang pendapat dengan kepala sekolah, jadinya malas ke sekolah. Satunya lagi sibuk dengan urusan administrasi sekolah dan terkesan tidak tulus. Dan yang lainnya ada yang dua orang punya hubungan keluarga yang sama-sama sok perfeksionis, ada pula yang pelitnya minta ampun (masa’ saya disuruh beli sesuatu yang harganya 7ribu rupiah, saya dikasi uang 5ribu rupiah. Eh, minta kembaliannya 3ribu pula), dan parahnya lagi kepala sekolah yang jarang muncul di sekolah. Tidak nyaman, namun ini demi tanggung jawab dan rupiah.

Pada saat semester akhir, di tahun 2008, saya merasa mempunyai cukup banyak waktu luang. Rugi rasanya bila saya menyia-nyiakan begitu banyak waktu  yang seharusnya saya isi dengan sesuatu yang bermanfaat. Kegiatan saya saat itu, hanyalah sekedar ke kampus untuk berkonsultasi dengan dosen, mengajar di pesantren dua kali seminggu, hang out ke mall, dan sisanya melakukan pekerjaan rumah dan bersantai.  Dan tiba-tiba seorang teman menghubungi saya untuk mengajukan lamaran di tempatnya mengajar. Dan Alhamdulillah saya diterima di tempat kursus tersebut. Mulailah hari-hariku menjadi semakin sibuk. Saya pun tidak pernah menyangka bahwa kami hanya libur di hari minggu dan harus pulang di malam hari. Meski tidak punya jadwal harus tetap stand by di sana. Di awal- awal sempat merasa tidak nyaman karena salah seorang rekan kerja saya terkesan terlalu memojokkan dan meremehkan kinerja saya. Beberapa orang siswa yang belum mengenal saya dengan baik langsung menjudge bahwa saya tidak baik. Ingin rasanya mangkir, namun kontrak kerja baru saja di tanda tangani. Harus pasrah terima nasib. Tadinya saya sering tidur siang, semenjak mengajar di Oxford tidak pernah ada waktu untuk itu. Saya pun semakin jarang mengikuti acara-acara keluarga. Alasannya, saya kelelahan, pagi ngajar di sekolah, siang sampai malam ngajar di Oxford. Masih teringat betapa kakunya sistem yang berjalan. Tidak boleh telat, tidak boleh cepat pulang. Tidak boleh tidak masuk kantor kecuali bila sakit (sakit yang benar-benar sakit). Namun sekarang keadaan berbalik. Orang yang tadinya sering memojokkanku sekarang justru membutuhkanku sebagai tempat curhatnya. Dan tidak ada lagi karyawan tetap yang laki-laki. Semua wanita, masih single dan muda. Tidak perlu ragu untuk mengeluarkan pendapat. Bergosip, bercanda dan tertawa bersama merilekskan suasana. Bila ngantuk bisa tidur siang atau berbaring sejenak. Rejeki berupa kiriman makanan dari siswa, orang tua siswa, ataupun traktiran terus mengalir. Alhamdulillah….sejauh ini saya merasa nyaman. Semoga keceriaan terus menerus berlangsung. Amin ya Rabb.

Di pesantren harus bisa jaga imej karena tidak semua santri merupakan santri yang fine. Sebagian dari mereka adalah anak-anak yang akhlaknya kurang baik. Sebisa mungkin memberi contoh yang baik bagi mereka. Sementara Oxford adalah tempat yang flexible. Hubungan antara guru dan siswa cukup easy going. Apapun itu, Oxford dan Pesantren adalah tempat yang  berbeda. Keduanya tak bisa disamakan. Namun, keduanya tetap istimewa. 

0 comments:

Post a Comment