Follow by Email

Sunday, June 30, 2013

Diskriminasi di dalam Kelas


Masih mengingat 17 tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SD, guru agamaku sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas. Ia berdiri di tengah di antara jejeran empat buah bangku paling depan. Temanku Luna (nama samaran) duduk di sebelah kirinya dan saya duduk di sebelah kiri Luna. Saat itu temanku Luna sedang usil, dia terus mengusik keseriusanku memperhatikan penjelasan guru. Saya menepis gangguannya, akan tetapi ia tidak berhenti mengusik dengan menarik-narik rambut atau bajuku. Sekejap mata, sebuah buku tebal menghantam wajahku. Sangat sakit rasanya. Tapi, hatiku lebih perih lagi begitu menyadari bahwa gurukulah yang telah melayangkan buku agama tebalnya itu ke wajahku. Masih bingung tidak mengerti, apa salahku, guruku itu menambahkannya dengan omelan yang menuduhku tidak memperhatikan pelajaran. Bukankah sejak tadi saya memperhatikan pelajaran, temanku Luna lah yang telah menggangguku sehingga saya berusaha menghentikannya. Seharusnya guruku itu mengetahuinya karena ia berdiri begitu dekat dengan bangku kami. Hantamannya dilayangkan kepadaku melewati Luna yang duduk tepat di dekatnya dan justru sayalah yang kena. Tentu saya malu dan sedih, tetapi saya berusaha membendung air mata jatuh di kedua pipiku. Setelah tiba di rumah, saya masih merenungkan. Mengapa guru saya tadi memukul saya bukannya Luna? Saya baru menyadarinya bahwa Luna adalah murid rangking 1 di kelasku, ia termasuk murid yang terkenal cantik dan kaya. Guruku tidak akan mungkin mau mempermalukan murid kesayangannya itu. Hampir seluruh murid di sekolahku tahu bahwa Luna adalah murid kesayangan guru Agama itu.

Menginjak bangku SMP, pelajaran matematika semakin sulit bagiku, tetapi saya menjadikannya sebuah tantangan. Saya terus berusaha memecahkan kebuntuan itu. Dan ternyata beberapa kali saya berhasil menjadi salah satu dari sedikit siswa yang tidak mengulang pada ulangan Matematika di kelasku. Pada pelajaran matematika di kelas 2, setiap kali guru bertanya siapa yang bisa mengerjakan soal ini? Ketika saya yakin saya bisa menyelesaikannya, dengan cepat saya mengacungkan tangan bersaing dengan teman-teman yang lain. Seringkali saya melakukan ini, tapi guruku itu lebih memilih siswa yang menurutnya lebih pintar dari pada saya. Bahkan, pada saat hanya saya seorang  yang mengacungkan tangan untuk menyelesaikan sebuah soal matematika yang menurutku mudah sementara mereka yang lebih pandai dari pada saya tidak ada seorang pun yang yakin dengan jawaban mereka. Guru ku itu lebih memilih untuk menyelesaikan dan menjelaskannya sendiri, tidak memberikan kesempatan kepada saya. Ini tidak hanya sekali, atau dua kali terjadi selama tahun pelajaran itu. Sikap guruku membuat semangatku untuk mempelajari matematika menjadi semakin lama semakin berkurang.

Hingga memasuki masa SMA, mata pelajaran Bahasa Inggris masih menjadi pelajaran favoritku. Saya tidak begitu pandai dalam Bahasa Inggris, tapi saya menyukainya. Waktu itu guru bahasa Inggrisku, memberi kami tugas menghafal sekitar dua puluh kosa kata dalam bahasa inggris beserta artinya. Waktu itu saya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghafalnya. Tiba giliran saya maju ke depan, tiba-tiba ‘blank’ saya lupa beberapa kata. Dengan wajah kesal, guruku itu mengomeliku. Katanya saya tidak belajar, tidak berusaha. Malu rasanya diomeli di depan kelas. Setelah saya, giliran teman saya, si cantik Mary. Saya memperhatikannya, ia juga tidak menghafal semua kata, bahkan jumlah kata yang ia lupa lebih banyak dari pada saya. Tenggorokan saya seketika kering, guruku itu meloloskannya begitu saja, tanpa omelan, malah tutur kata guruku itu tedengar jauh lebih lemah lembut. Mary adalah siswi yang cantik, kaya dan salah satu teman se- geng anak perempuan guru bahasa inggrisku itu.

Di gedung DH, kampus UNM Parangtambung, seorang asisten dosen wanita memberi kami mata kuliah ILS (Integrated Language Skill). Kami sedang mempelajari pronunciation dan intonation yang tepat dalam sebuah percakapan Bahasa Inggris. Kami semua mendapat giliran untuk mengucapakan sebuah kalimat dengan pengucapan dan intonasi yang tepat. Tiba giliran saya, ternyata tidak selancar seperti yang kupikirkan, saya diharuskan mengulanginya beberapa kali. Saya terus berusaha memperbaikinya, akan tetapi wajah dosen itu menunjukkan wajah yang tidak senang. Entahlah, apakah memang di kelas saya itu hanya saya yang benar-benar bodoh. Putaran berikutnya, setiap mahasiswa kembali mendapat giliran untuk melakukan hal yang sama dengan contoh kalimat lainnya. Akan tetapi, saya selalu di skip alias dilewatkan, tidak mendapat giliran. Putaran ketiga, keempat, dan kelima, sama saja saya tetap dilewatkan. What’s wrong with me? Am I invisible? Saya merasa tidak melakukan hal-hal aneh atau hal yang tidak sopan kepada dosen itu.  Hingga saat ini saya masih tidak mengerti. Sejak semester itu berlalu dan saya mendapatkan nilai C (nilai terendah yang kuperoleh semester itu), saya tidak pernah lagi bertemu atau melihat dosen itu.

Beberapa peristiwa atau pengalaman saya tadi, hanya beberapa contoh dari ketidakadiilan yang saya peroleh selama saya menempuh pendidikan. Sejujurnya, masih banyak hal-hal lain yang mengganjal dalam pikiran saya selama ini yang tak mungkin cukup untuk saya ceritakan di halaman ini.  Diskriminasi memang sering kali terjadi di dalam kelas sejak dulu hingga kini.  Diskriminasi adalah bentuk ketidakadilan terhadap individu atau kelompok tertentu yang bisa merugikan individu atau kelompok tertentu tersebut. Yang sangat disayangkan adalah apabila tindakan pendiskriminasian ini dilakukan oleh seorang guru atau tenaga pendidik, dimana seharusnya ia yang menjadi teladan yang baik bagi anak-anak didiknya.

Sejak dulu, sejak saya diperlakukan secara tidak adil oleh guru, saya sudah menanamkan sebuah janji di dalam hati, bila suatu saat nanti saya menjadi seorang guru, SAYA TIDAK AKAN MELAKUKAN TINDAKAN DISKRIMINASI TERHADAP ANAK DIDIK SAYA. Saya tidak ingin mengulang kekeliruan beberapa guru saya terdahulu. Kini, saya benar-benar adalah seorang guru, saya tidak akan pernah mengistimewakan salah satu atau beberapa di antara mereka hanya karena alasan si A lebih pandai, si B lebih cantik, si C lebih kaya, atau si D lebih pandai mengambil hati. Kasih sayang kita kepada mereka tidak seharusnya diukur dengan semua itu. Tidak sulit melakukannya bila kita sebagai guru menganggap mereka semua adalah anak-anak kita sendiri. Insya Allah, semoga saya bisa mempertahankannya. Amin Ya Rabbal Alamin…


1 comments:

moon shadow said...

Saya juga mengalami hal yang sama, bahkan bukan dalam kelas saja, terkadang juga sampai kedalam kehidupan sehari-hari, semua orang sudah melakukan diskriminasi kepada saya

Post a Comment