Follow by Email

Thursday, August 25, 2011

Tradisi Lebaran di berbagai Belahan Dunia


Indonesia
Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tak heran bila perayaan lebaran di Negara kita sangat terasa meriah bila dibandingkan dengan Negara-negara lain. Berbagai persiapan dilakukan jauh hari sebelum hari raya tiba. Menjelang lebaran biasanya ibu-ibu sibuk membuat kue-kue kering, beres-beres rumah, serta berbelanja perlengkapan rumah tangga dan baju lebaran untuk keluarga. Selain itu ada pula kebiasaan menukarkan uang pecahan kecil yang akan dibagi-bagikan kepada anggota keluarga  yang masih anak-anak. Bagi yang tinggal di perantauan, kebanyakan dari mereka mudik ke kampung halaman masing-masing.

Pada malam takbir atau hari terakhir puasa, mesjid-mesjid mengumandangkan takbir bersahut-sahutan. Jalan-jalan di perkotaan ramai oleh pawai takbiran keliling. Tak jarang diadakan pesta kembang api.  Sedangkan di pedesaan, anak-anak berkumpul serta berkeliling desa mengumandangkan takbir sambil membawa obor.

My favorite menu for lebaran 'coto and ketupat'
Pada hari raya lebaran, masyarakat muslim biasanya melaksanakan shalat Id di mesjid atau di lapangan. Setelah itu, bersilaturahmi ke rumah tetangga dan kerabat saling bermaaf-maafan. Beberapa rumah sering mengadakan acara ‘open-house’ yang diperuntukkan bagi semua orang meskipun bukan kerabat ataupun teman. Tamu-tamu yang datang bertamu biasanya dijamu dengan makanan dan minuman seperti ketupat, opor ayam, kari, sambal goreng hati, rendang, kue kering dan minuman dingin berupa sirup, teh hangat, atau kopi. Tapi, menu special khas Makassar yang paling enak adalah coto dan ketupat (Mmmm….yummy!)


Arab Saudi
Tak hanya di Indonesia ada tradisi silaturahmi. Di sejumlah negara Arab, tradisi berkumpul dan saling mengucap maaf juga dilakukan di antara keluarga dan kerabat. Seperti dikutip dari Arab News, setelah mengikuti ibadah Al-Mashhad atau salat Id di masjid-masjid besar terdekat, mereka biasanya berkumpul di rumah keluarga tertua untuk bersilaturahmi. Mereka menggelar pesta makan siang dengan menu-menu khas.

Usai pesta makan siang dengan keluarga besar, barulah mereka memasuki tradisi silaturahmi dengan tetangga dan sejumlah kerabat seraya mengucap rangkaian selamat Idul Fitri.  Selama lebaran, semua pintu rumah biasanya sengaja tak dikunci untuk memudahkan kerabat, tetangga atau keluarga yang hendak bertandang. Mereka juga menyiapkan satu meja lengkap dengan kertas dan pena di dekat pintu untuk menyambut tamu yang tak bisa bertemu tuan rumah.

Jika saat berkunjung tak ada orang di dalam rumah, mereka akan menaruh bingkisan seperti sekotak permen, kue, atau satu set parfum di atas meja yang telah disiapkan. Lalu mencatat pesan Idul Fitri di kertas yang telah disediakan.


Turki
Masyarakat Turki menyebut Idul Fitri sebagai perayaan 'Seker Bayram?', atau 'Ramazan Bayram?', yang merupakan kebiasaan orang untuk saling menyapa. Mereka biasanya akan berkata "Bayraminiz Kutlu Olsun" (Semoga Anda Bayram, Jadilah Dirayakan), atau "Mutlu Bayramlar" (Selamat Bayram), atau "Bayraminiz Mubarek Olsun".

Untuk beberapa tradisi, perayaan Idul Fitri di Turki tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Semua orang berkumpul dengan keluarga dan teman dekat mengenakan pakaian terbaik yaitu 'Bayramlik', yang sering dibeli hanya untuk kesempatan ini.

Mereka juga mengunjungi makam orangtua dan keluarga untuk mendoakan, sambil menghiasinya dengan bunga serta menyiram tanaman di sekitarnya dengan air.

Perayaan Idul Fitri juga sangat ditunggu oleh anak-anak. Mereka biasanya berkeliling ke rumah tetangga menghantar doa agar setiap orang yang merayakan Bayram bahagia. Doa itu akan dibayar coklat, atau permen tradisional seperti baklava dan Turkish Delight. Persamaan lainnya dengan di Indonesia adalah pembagian uang receh untuk anak-anak.

Kota-kota di seluruh negara juga membuat acara penggalangan dana bagi masyarakat miskin. Ada pertunjukan musik konser atau pagelaran seni tradisional seperti Karagöz dan Hacivat, berupa pertunjukan teater oleh Mehter dan Janissary Band yang didirikan pada zaman Kekaisaran Ottoman.

Perayaan Bayram di Turki berarti membantu orang yang kurang beruntung, mengakhiri permusuhan dari masa lalu dan bergembira sambil sarapan dan makan malam bersama  orang-orang tercinta.

Perayaan di lingkungan pemukiman pun tidak kalah seru, rumah-rumah dan jalan dihiasi sedemikian rupa untuk merayakan kemenangan setelah satu bulan berperang melawan hawa nafsu. Televisi dan radio di Turki juga menyiarkan program khusus Bayram, seperti film-film khusus, program musik dan perayaan bersama selebriti dan politisi.


Mesir
Saat Lebaran, di Mesir memang ada tradisi silaturahim dan kumpul-kumpul keluarga, tapi tampaknya tradisi itu hanya terbatas acara keluarga dan kerabat terdekat saja, dan tidak melibatkan tetangga sekitar, apalagi teman sejawat atau seprofesi. Barangkali kondisi sosial di Mesir, khususnya di kota metropolitan seperti Kairo, jauh lebih baik dibandingkan kondisi sosial kita di perkotaan kita sekalipun. Bentuk rumah apartemen yang bertingkat-tingkat seperti susunan kardus raksasa yang menjadi tempat tinggal bagi orang Mesir, seakan membuat sekat-sekat sosial yang menjadikan tidak terjalin hubungan yang akrab antartetangga.

Bagi sebagian masyarakat yang tidak memiliki ruang tamu untuk menampung para kerabat yang datang, biasa mereka memilih bersilaturahim ngobrol-ngobrol santai sembari menikmati hidangan makanan ringan di taman. Hadiqah atau taman merupakan tempat alternatif favorit untuk silaturahim saat Lebaran. Dengan demikian, pada Idul Fitri seperti ini taman-taman seperti hadiqah Azhar, hadiqah Athfal, hadiqah Daulliyah, hadiqah Yaban dan hadiqah-hadiqah kecil lainnya dibanjiri para pengunjung.

Soal makanan pun tentu berbeda. Jika di beberapa daerah di Indonesia kita menyajikan berbagai macam hidangan khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam dan beraneka ragam jenis kue-kue, maka bagi orang Mesir hidangan Lebaran yang menjadi favorit adalah ranja. Ranja jenis makanan dari ikan asin dan asinan sejenis acar. Untuk jenis kue Lebaran yang disediakan orang Mesir saat hari raya, tidak jauh berbeda dengan kue-kue lebaran di tempat kita.


Amerika
Umat Muslim di Amerika Utara pada umumnya merayakan Idul Fitri dengan cara yang tenang dan khidmat. Karena penetapan hari raya bergantung pada peninjauan bulan, seringkali banyak masyarakat tidak sadar bahwa hari berikutnya sudah Idul Fitri. Masyarakat menggunakan metode yang berbeda untuk menentukan penghujung Ramadhan dan permulaan Syawal. Orang Amerika Utara yang berada di wilayah timur bisa jadi merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda dibanding mereka yang di wilayah barat. Pada umumnya, penghujung Ramadan diumumkan via e-mail, website, atau melalui sambungan telepon.

Umumnya, keluarga Muslim di Barat akan bangun sangat pagi sekali untuk menyiapkan makanan kecil. Setiap orang didorong untuk berpakaian formal dan baru. Banyak keluarga-keluarga yang memakai pakaian tradisional dari negara mereka, karena kebanyakan Muslim disana ialah imigran. Selanjutnya mereka akan pergi ke majlis yang paling dekat untuk salat. Salat itu bisa diadakan di masjid lokal, ruang pertemuan hotel, gelanggang, ataupun stadion lokal. Salat Idul Fitri sangat penting, dan umat Muslim didorong untuk salat Id memohon ampunan dan pahala. Setelah salat, ada kutbah dimana imam memberikan nasihat bagi jamaahnya dan biasanya didorong untuk mengakhiri setiap kebencian ataupun kesalahan lampau yang mungkin mereka punya. Setelah salat dan khutbah, para jamaah saling memeluk dan satu sama lain saling mengucapkan selamat Idul Fitri. Muslim di Amerika Utara juga merayakan Idul Fitri dengan cara saling memberi dan menerima hadiah kepada keluarga.


Asia Selatan (India, Pakistan dan Bangladesh)
Di Bangladesh, India, dan Pakistan, malam sebelum Idul Fitri disebut Chand Raat, atau malam bulan. Orang-orang mengunjungi berbagai bazar dan mal untuk berbelanja, dengan keluarga dan anak-anak mereka. Para perempuan, terutama yang muda, seringkali satu sama lain mengecat tangan mereka dengan bahan tradisional hennadan serta memakai rantai yang warna-warni.

Cara yang paling populer di Asia Selatan selama perayaan Idul Fitri adalah dengan mengucapkan Eid Mubarak kepada yang lain. Anak-anak didorong untuk menyambut para orang tua. Didalam penyambutan ini, mereka juga berharap untuk memperoleh uang, yang disebut Eidi, dari para orang tua.

Di pagi Idul Fitri, setelah mandi dan bersih, setiap Muslim didorong untuk menggunakan pakaian baru, bila mereka bisa mengusahakannya. Sebagai alternatif, mereka boleh menggunakan pakaian yang bersih, yang telah dicuci. Orang tua dan anak laki-laki pergi ke masjid atau lapangan terbuka, tradisi ini disebut Eidgah, salat Ied, berterimakasih kepada Allah karena diberi kesempatan beribadah di bulan Ramadan dengan penuh arti. Setiap Muslim diwajibkan untuk membayar Zakat Fitri atau Zakat Fitrah kepada fakir miskin, sehingga mereka dapat juga turut merayakan hari kemenangan ini.

Setelah salat, perkumpulan itu dibubarkan dansetiap Muslim saling bertamu dan menyambut satu sama lain termasuk anggota keluarga, anak-anak, orang tua, teman dan tetangga mereka.

Sebagian Muslim juga berziarah ke makam anggota keluarga mereka untuk berdoa bagi keselamatan almarhum. Biasanya, anak-anak mengunjungi sanak keluarga dan tetangga yang lebih tua untuk meminta maaf dan mengucapkan salam.

Setelah bertemu dengan teman dan sanak keluarganya, banyak orang yang pergi ke pesta-pesta, karnaval, dan perayaan khusus di taman-taman (dengan bertamasya, kembang api, mercon, dan lain-lain). Di Bangladesh, India, dan Pakistan, banyak dilakukan bazar, sebagai puncak Idul Fitri. Sebagian Muslim juga memanfaatkan perayaan ini untuk mendistribusikan zakat mal, zakat atas kekayaannya, kepada orang-orang miskin.

Dengan cara ini, umat Muslim di Asia Selatan merayakan Idul Fitri dalam suasana yang meriah, sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah, dan mengajak keluarga mereka, teman, dan para fakir miskin, sebagai rasa kebersamaan.

Cina
Disebuah negara yang menganut sistem politik komunis, perayaan Idul Fitri tetaplah meriah, meskipun terbatas sesuai jumlah muslim di Cina yang tidak banyak. Di Xinjiang, pagi di hari Idul Fitri sekitar 1000 muslim akan melakukan sholat Id. Para pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, dan para wanita mengenakan baju hangat dan kerudung setengah tutup. Pesta makan diisi dengan masak besar untuk seluruh jamaah yang hadir diikuti dengan makan bersama. Acara kemudian dilanjutkan dengan saling mengunjungi kerabat dan silaturahmi. Acara juga diisi dengan bersih-bersih makam dan pembacaan doa di makam kerabat. Hal yang menjadi ciri khas lebaran disana adalah upacara mengenang pembantaian umat muslim oleh dinasti Qing dan juga selama revolusi kebudayaan.


Eropa
Rata-rata perayaan lebaran di negara-negara Eropa yang memiliki komunitas muslim sedikit sangat jauh dari kemeriahan. Karena Idul Fitri bukanlah hari libur resmi, maka muslim di negara ini harus tetap bekerja atau sekolah sebagaimana hari biasanya. Muslim akan berusaha mengambil cuti di hari ini supaya tetap bisa mengikuti Shalat Id dan berkumpul dengan sesama muslim di masjid, kemudian berkumpul bersama keluarga di rumah.

Meskipun tradisi dan kemeriahan menyambut lebaran atau hari raya Idul Fitri, berbeda antara satu negara dengan negara lainnya atau satu tempat dengan tempat lainnya, namun yang pasti esensi memperingati atau merayakan Idul Fitri adalah sama. Yakni, membuka kesucian diri dan merayakan kemenangan melawan nafsu.


"SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H.
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN. MOHON MAAF LAHIR BATIN."
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ   (^_^)    Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ  



 Source:

0 comments:

Post a Comment